Bagikan sekarang

Kementerian Koperasi dan UKM menyatakan dukungannya terhadap upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang bergerak di bidang jasa perhotelan dan restoran sebagai bagian penting industri pariwisata Indonesia.

Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso BS di Nusa Dua Bali, Minggu, mengatakan SDM hotel dan restoran menjadi pilar penting bagi berkembangnya industri pariwisata di Indonesia.

“Kami sadar bahwa industri pariwisata merupakan sektor yang paling banyak diperkuat oleh para pelaku koperasi dan UKM sehingga kami sangat mendorong upaya pengembangan SDM yang bergerak di bidang hotel dan restoran,” katanya.

Pihaknya siap memberikan dukungan pelatihan dan bimbingan teknis agar SDM yang bergerak di bidang hotel dan restoran semakin berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Untuk kepentingan itu pihaknya menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sebagai organisasi terbesar yang menaungi mereka.

“Industri pariwisata harus didukung oleh SDM yang berkualitas dan berkompeten agar semakin berdaya saing, sehingga sektor ini yang sebagian besar pelakunya adalah UMKM semakin bisa menyejahterakan rakyat,” kata Prakoso.

Pada kesempatan yang sama, pihaknya menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2016 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), di Nusa Dua, Badung, Bali.

Menteri Pariwisata Arif Yahya pada kesempatan yang sama secara resmi membuka Rakernas tersebut.

Arief Yahya juga menekankan pentingnya SDM pariwisata yang unggul agar bisa memenangkan persaingan.

Dalam kesempatan itu, dia menuturkan ada tiga hal yang akan membuat Indonesia mampu unggul dari negara lain dalam bidang pariwisata.

Hal pertama adalah spirit atau semangat. Menurut Arief, strategi tanpa semangat tentu akan tidak maksimal. Ini bisa dicontoh dari Thailand yang begitu bersemangat dalam memenangkan peperangan dalam konteks industri pariwisata.

“Mereka hebat sekali. Dari mulai rajanya sampai cleaning service mereka, kalau bicara pariwisata itu hebat luar biasa,” ujar Arief.

Selain itu, hal kedua adalah solid. Ini juga terlihat di Thailand dimana berbagai pihak, mulai dari maskapai, perhimpunan hotel dan restoran (PHRI) hingga paket wisatanya bersatu.

“Jadi, PHRI dengan pemerintah dan bisnis harus bersatu, solid, kalau mau menang bersaing,” kata dia.

Yang terakhir, yang perlu diperhatikan jika ingin menang dalam persaingan industri pariwisata yaitu kecepatan. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mencanangkan tahun 2016 itu adalah tahun kecepatan. Tiga fokus presiden adalah deregulasi, infrastruktur dan pengembangan bisnis.

“Kelemahan bangsa adalah terlalu lelet. Malaysia lebih kecil dari Indonesia tapi kita kalah dari mereka. Kita kalah dari Thailand yang lebih kecil. Bahkan kita kalah dari Singapura yang lebih kecil,” papar Arief.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *