Bagikan sekarang

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) mengapresiasi dan siap memberikan pendampingan dan pelatihan bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) termasuk bagi wirausahawan pemula di kalangan kaum millenial untuk meningkatkan daya saing produknya. Bahkan KemenkopUKM juga selalu siap memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi mereka yang terkendala modal usaha.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Prof Rully Indrawan, mengatakan bahwa rata-rata pelaku UMKM pemula menghadapi tiga tantangan dalam menjalankan usahanya. Ketiga permasalahan tersebut adalah kompetensi atau kemampuan sumber daya manusia (SDM) terbatas, permodalan yang minim serta akses pemasaran yang sempit. Ketiga kendala tersebut kerap terjadi hampir di setiap pelaku UMKM yang baru memulai usahanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, KemenkopUKM sudah menunjuk Smesco Indonesia sebagai pusat konsultasi, kurasi dan coaching clinic bagi pelaku UMKM. Namun karena pelaku UMKM tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan jauh dari Smesco Indonesia, maka proses pendampingan ataupun konsultasi bisa dilakukan secara virtual. Terlebih di saat pandemi seperti saat ini, proses interaksi secara daring menjadi salah satu opsi yang paling efektif.

“Semalam kita udah komunikasi dengan bapak dirut Smesco bahwa pemuda-pemudi di Papua ini butuh bantuan (peningkatan SDM), kita nggak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta tapi kita bisa mulai secara virtual dengan modal sedikit dan efisien. Mohon nanti rencana ini ditindaklanjuti, saya akan terus monitor dari Jakarta,” ujar Prof Rully Indrawan saat memberikan pengarahan dan bimbingan teknis kepada para pemuda milenial di Balai Pelatihan Koperasi Jayapura, Papua, Jumat (07/08).

Lebih lanjut, Rully menambahkan bahwa Smesco Indonesia juga dijadikan pusat pemasaran bagi produk – produk UMKM di seluruh Indonesia. Produk yang dipajang di galeri Smesco tersebut telah dinyatakan lolos kurasi dan sudah memenuhi standar ekspor. Untuk pelaku UMKM pemula, lanjut Rully, bisa memanfaatkan media digital seperti media sosial, market place dan lainnya untuk memasarkan produk-produknya.

Dalam hal ini, KemenkopUKM sudah menjalin kerjasama dengan pemilik marketplace besar di Indonesia seperti Blibli, Tokopedia, Bukalapak dan lainnya untuk bersama-sama memfasilitasi pelaku UMKM memasarkan produknya. Di KemenkopUKM juga terdapat program pelatihan e-commerce untuk memberikan pemahaman kepada pelaku usaha berjualan secara daring. Untuk memastikan agar produk UMKM bisa laku di pasaran, Rully berharap agar dibuat berbeda dengan produk lainnya baik dari sisi packaging ataupun dari sisi varian produknya.

“Produk kita itu harus ada satu hal yang khas yang membuat orang itu ingat terus, kaya di Manokwari saya akan beli abon gulung karena rasanya khas dan tidak ditemukan di wilayah lainnya. Itu salah satu contoh, jadi harus ada sesuatu yang selalu diingat oleh konsumen,” sambungnya.

Sementara itu untuk persoalan pembiayaan, pemerintah sudah menyediakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga yang relatif murah. Kemudian program kredit ultra mikro (UMi) yang bisa diakses oleh pelaku usaha pemula. Selain itu juga ada pembiayaan yang disalurkan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) juga dengan bunga yang sangat rendah sekali. Namun untuk bisa mengakses pembiayaan ini pelaku UMKM harus bersatu dalam wadah koperasi. Untuk itu Rully berharap agar pelaku UMKM di Papua bisa membentuk koperasi agar usahanya bisa lebih maju dan mudah mendapatkan akses pembiayaan.

“Sekarang ini eranya sudah economic sharing jadi tidak bisa bergerak sendiri-sendiri lagi. Jadi silahkan saudara – saudara produksi apapun itu tapi berkoperasi untuk mudah mencari modal dan aktivitas pendukung beripa kelembagaan ekonomi bersama,” pungkas Rully.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah Provinsi Papua, Soleman Hamzah, meminta kepada kaum millenial yang sedang memulai usaha dapat memanfaatkan kesempatan dan kebijakan pemerintah demi mendorong peningkatan usahanya. Terlebih lagi di saat pandemi seperti saat ini banyak pelaku UMKM di Papua yang juga terkena imbasnya. Oleh sebab itu diawali dari pertemuan tersebut, dia berharap kaum milenial di Papua yang sedang merintis usaha dapat benar-benar fokus dan pantang menyerah meskipun dihadapkan dengan berbagai persoalan.

“Mau tidak mau kita harus mulai bergairah kembali, secara kelembagaan ada dinas koperasi dan UKM yang bisa dimanfaatkan untuk menggali berbagai kebijakan pemerintah. Mari kita bersama-sama untuk bisa bangkit kembali mengisi ruang – ruang kosong agar perekonomian kita bisa kembali pulih,” tuturnya.

Sementara itu Amelia Ludia Kafiar (21 tahun), mengaku siap bersaing dengan pelaku UMKM lainnya di wilayah Wamena. Bahkan jika mendapat dukungan dari pemerintah dirinya yakin bisa bersaing dengan pelaku UMKM di luar Papua. Sebagai produsen minuman alami dan juga cemilan khas berbahan dasar komoditas lokal, produknya saat ini sudah mulai diminati oleh masyarakat di wilayah Wamena dan sekitarnya.

Hanya saja dia mengaku terkendala modal usaha dan peralatan yang memadahi untuk bisa meningkatkan produksinya. Dengan keterbatasan permodalan dan juga peralatan saat ini permintaan keripik, jus dan minuman segar lainnya hanya bisa memenuhi permintaan dengan skala yang terbatas. Untuk suplai bahan baku, Amelia mengaku memanfaatkan hasil pertanian atau perkebunan dari Mama – Mama di Wamena.

“Kedepan kami harap bisa buat produk dengan kemasan yang bagus kemudian bisa kami pasarkan tidak hanya di Papua tapi kalau bisa sampai ke Jawa. Tapi terus terang kami ada kendala berupa modal dan alat kerja, kalau kami dibantu alat dan modal kami yakin bisa bersaing dengan temen – temen di Jakarta,” ucap dia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *