Bagikan sekarang

Tantangan koperasi di era digital tidak hanya cara berbisnis, melainkan juga bagaimana mengubah mindset dalam sistem tata kelola secara menyeluruh. Koperasi juga harus mampu beradaptasi dan bertransformasi secara dinamis.

Untuk itu perlu ada re-design koperasi termasuk penerapan teknologi dengan pendekatan “market driven” agar permintaan terhadap produk koperasi dan UMKM meningkat, sehingga dapat dibawa ke ‘market online’ dan disiapkan juga ‘trading house’ untuk masuk ke pasar lokal dan pasar global.

Hal itu dikatakan oleh Deputi bidang Kelembagaan KemenkopUKM Rulli Nuryanto, saat launching aplikasi Koperasi Nasari Digital (Nadi) dan membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-21 KSP Nasari, Senin (31/8/2020) di Gedung Smesco Indonesia Jakarta.

Kunci koperasi dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 menurutnya, dengan melakukan beberapa hal seperti: fokus mengembangkan bisnis yang mengarah pada kebutuhan anggota, modernisasi manajemen koperasi, melakukan perubahan strategis, pola, model bisnis berbasis teknologi informasi dan ilmu pengetahuhuan, melakukan kolaborasi bisnis dengan sesama koperasi maupun pelaku usaha lainnya serta meningkatkan kualitas SDM.

“Laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas KSP Nasari selama Tahun 2019 relatif cukup baik, hal ini ditunjukan antara lain dengan jumlah asset dan modal sendiri yang menunjukan peningkatan demikian juga dengan volume pinjaman, jumlah anggota dan SHU,” kata Rulli Nuryanto.

Demikian juga imbuhnya, laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas KSPPS Nasari Mandiri Syariah menunjukan adanya penambahan jumlah modal Sendiri, jumlah pendapatan, jumlah anggota dan SHU.

“Namun dari laporan pertanggungjawaban tersebut terlihat ada penurunan asset yang harus menjadi perhatian pengurus, pengawas dan anggota,” jelasnya.

Kinerja yang ditunjukan oleh KSP Nasari dan KSPPS Nasari Mandiri Syariah ini, jelasnya, tentu diharapkan dapat dipertahankan bahkan bila perlu ditingkatkan di tahun-tahun mendatang dengan tetap memperhatikan catatan dari laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas serta tetap berpedoman kepada jatidiri koperasi.

“Untuk mengingatkan bahwa koperasi berbasis syariah memiliki perbedaan dengan Koperasi Simpan Pinjam Konvensional khususnya terkait dengan keberadaan dewan pengawas syariah yang telah bersertifikat untuk ikut dalam pengawasan produk dari KSPPS,” jelas Rulli.

KSPPS, tegasnya, wajib melaksanakan kegiatan usaha dengan menerapkan Prinsip Syariah, tata kelola yang baik, prinsip kehati-hatian, manajemen risiko, kepatuhan syariah dan mematuhi peraturan yang terkait dengan pengelolaan usaha simpan pinjam dan pembiayaan syariah.

Sebelumnya Ketua KSP Nasari Sahala Panggabean mengungkapkan, RAT dan launching Nadi ini dilakukan bertepatan dengan perayaan ulang tahun Nasari ke-22. Koperasi yang didirikan pada saat krisis moneter 1998 ini kini berkembang pesat dan kini telah beroperasi secara nasional melayani para anggotanya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.

“Capaian ini tentu berkat dukungan KemenkopUKM beserta dinas-dinas Koperasi serta para mitra kerja,” papar Sahala.

Di tengah pandemi covid-19 ini, Nasari Mandiri Syariah melakukan terobosan dengan penggunaan platform Nasari Digital (Nadi). “Upaya ini kita dilakukan untuk memenangkan persaingan, adaptive, agile dan evolve (berevolusi) dan mengambil peranan lebih besar untuk menjadi salah satu asset bangsa yang peduli untuk penguatan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan bagi anggota,” kata Chandra Saritua selaku Ketua KSPPS Nasari Mandiri Syariah.

Semua fiture yang ada di aplikasi Nadi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada para anggota. Koperasi itu bisa dimodernkan, koperasi itu bisa didigitalisasi. Masyarakat juga lebih mengenal Nasari yang kemudian tertarik menjadi anggota.

Dengan demikian koperasi bisa bersaing dengan pelaku usaha lain, bukan hanya di sektor simpan pinjam, tapi juga di sektor riil.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *