Bayi 1,5 Tahun Jadi Korban Penyekapan oleh Rekan Bisnis Ayahnya

Seorang bayi bernama Arven Danendra Emeraldi (1,5 tahun) menjadi korban penyekapan sejak 10 hingga 13 Agustus kemarin, di gudang dekat kandang burung dan dikunci dari luar, serta dijaga secara bergiliran. Arven merupakan anak dari pasangan Roni Hendra Setiawan dan Ratna Furi Maulina Karebet.

Selama penyekapan terjadi, pasangan suami istri dan bayi mengalami intimidasi, karena dipaksa harus membayar oleh rekan bisnianya. Kami juga diancam mau dibunuh. Yang kami sesalkan mengapa para penyekap tidak memikirkan ada bayi berusia 1,5 tahun yang butuh tempat tinggal dan makanan yang layak,” kata Ratna Furi yang didampingi kuasa hukumnya Sahala Siahaan, kepada wartawan di Yogyakarta, selasa (15/8/2017).

Peristiwa ini bermula dari adanya keinginan dari Roni Hendra Setiawan untuk menjadi agen elpiji di daerah Bantul. Dalam perkembangannya mengenal seseorang yang bernama AI. AI mengaku bisa membantu Rudi untuk mengurus ijin keagenan elpiji di Pertamina wilayah Bantul. Dan sudah disepakati juga uang jasa untuk AI. Sebagai tindak lanjut kesepakatan tersebut maka AI mendapat kuasa dari PT milik Roni untuk mengurus perijinan elpiji.

“Setelah surat kuasa diterima, AI selalu memberikan kabar baik terus menerus dan meyakinkan kepada Roni, bahwa proses perijinan sedang berjalan. Sembari jalan, AI selalu meminta dana operasional untuk pengurusan ijin tersebut,” ungkap Sahala Siahaan.

Ia menambahkan, AI janji bulan Mei, kemudian bulan Juni jadi, ternyata sampai saat ini belum jadi. Menurut AI mulai Agustus ini akan diurus kembali dan september jadi perijinannya.

Kemudian karena sudah berkali-kali janjinya tidak dapat dipenuhi, tambah Sahala, ada dugaan AI memberitahukan kepada rekanan bisnis Roni yang nantinya menjadi pangkalan elpiji bahwa ijin tersebut tidak keluar. “Hal ini tentu membawa kecemasan rekan bisnis Roni, karena ijin yang sedang diurus sudah pasti tidak keluar dan akan membawa dampak kepada rekan bisnis Roni yang uangnya terpakai untuk mengurus perijinan,” jelas Sahala.

Akibatnya timbul kemarahan rekan bisnis Roni, dan mengambil jalan pintas yang sangat bertentangan dengan hukum dengan cara menyekap tadi. Pada minggu (13/8/2017) sore, Roni menghubungi rekannya di Jakarta dan mengabarkan tentang nasib dan kondisinya bahwasanya dia disekap. Atas informasi tersebut, rekannya terbang ke Jogja.

Rekannya pun datang dan melaporkan kondisi tersebut ke Polda DIY dengan No LP: Reg/0503/VIII/2017/DIY/SPKT tertanggal 14 Agustus 2017. Atas laporan tersebut pihak Polda mendatangi Polres, kemudian mereka bersama-sama mendatangi lokasi penyekapan dan di tempat itu ada sejumlah masa yang menjaganya.

“Yang jaga ada yang mengaku sebagai anggota dan penegak hukum. Akhirnya pihak Polda minta gudang tersebut dibuka dan Roni beserta keluarga pun diselamatkan,” urai Sahala.

Setelah dibuka, terlihatlah bayi yang berusia 1,5 tahun tersebut dalam kondisi lemah, pucat dan dalam keadaan sakit. Padahal seharusnya medapatkan perawatan, tapi justru disekap sehingga memperburuk kondisi bayi tersebut.

Petugas Polda DIY sangat menyesalkan peristiwa ini, karena penyekapan tersebut tidak manusiawi. Bayi tersebut tidak ada urusannya dengan kasus yang terjadi.

Menurutnya, yang melakukan penyekapan adalah calon-calon pangkalan yang kecewa atas informasi yang diterima dari AI. Padahal Roni sudah membuat pernyataan kesanggupan untuk mengembalikan dana calon pangkalan.