Rayakan HUT ke-11, LPDB KUMKM Miliki Dirut Baru

Rayakan HUT ke-11, LPDB KUMKM Miliki Dirut Baru

Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kemenkop dan UKM memasuki usia yang ke-11. Di hari jadinya ini, 18 Agustus sebelas tahun lalu, tercatat sejak 2008-2017, LPDB telah berhasil menyalurkan dana bergulir sebesar Rp More »

Tim Trans-TV dan LPDB Menangi Piala Menkop dan UKM Turnamen Tenis Meja

Tim Trans-TV dan LPDB Menangi Piala Menkop dan UKM Turnamen Tenis Meja

Tim B Trans TV dan Tim B LPDB berhasil merebut Piala Menkop dan UKM Turnamen Tenis Meja 2017 yang diselenggarakan Forum Wartawan Koperasi [Forwakop]. Kedua tim itu berhasil menyisihkan 24 tim media More »

LPDB Gelontorkan Dana Bergulir Rp 35 M untuk Propinsi Kaltim

LPDB Gelontorkan Dana Bergulir Rp 35 M untuk Propinsi Kaltim

Kabupaten Berau Propinsi Kalimantan Timur merupakan kabupaten yang memiliki potensi luar biasa menarik di bidang pariwisata, pertambangan, perkebunan dan lain-lain. Di bidang pariwisata ada Pulau Derawan, Maratua, Tanjung Batu, Pelabuhan Cermin dan More »

Aroma Cake Buah Naga, Oleh-oleh Paling Rekomen dari Batam

Aroma Cake Buah Naga, Oleh-oleh Paling Rekomen dari Batam

Aroma Cake Buah Naga adalah oleh-oleh asli Batam, yang menawarkan makanan sehat dan bergizi, karena terbuat dari sari buah naga merah yang sangat mudah di jumpai di kota Batam. Selain nikmat, Cake More »

Forwakop Gelar Turnamen Tenis Meja Piala Menkop dan UKM

Forwakop Gelar Turnamen Tenis Meja Piala Menkop dan UKM

Forum Wartawan Koperasi (Forwakop) akan menggelar turnamen tenis meja 2017 memperebutkan Piala Menteri Koperasi dan UKM  Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga di Gedung SMESCO Indonesia,  Jakarta Selatan, Senin (14/8/2017) pukul 08.00 – selesai. Ketentuan turnamen tenis meja adalah pesertanya More »

 

Category Archives: Ekonomi

Menkop UKM Dorong Terus UMKM Naik Kelas

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menekankan bahwa pihaknya akan terus mendorong anak muda yang berwirausaha agar naik kelas. “Saat ini, minat anak muda berwirausaha di Indonesia sangat tinggi. Oleh karena itu, ketika sudah mampu naik kelas, harus terus meningkatkan kualitas diri sebagai pengusaha dan produk yang dihasilkannya”, tegas Puspayoga usai prosesi Kick Off Astra Start Up Challenge dan menyerahkan sertifikat UMKM Naik Kelas kepada perwakilan 381 UMKM binaan Astra, di sela-sela acara Inspirasi 60 Tahun Astra di Kota Surabaya, Sabtu (22/7).

Di acara yang dihadiri Deputi Bidang Pengembangan SDM Prakoso BS, Puspayoga mengingatkan para wirausaha muda agar terus meningkatkan fokus usaha, kerja keras, dan jujur. “Artinya, ketika sudah benar-benar menjadi pengusaha dengan memiliki karyawan, maka seorang wirausaha muda harus sudah memiliki manajemen usaha yang jelas dan akuntable. Begitu juga dengan branding dan kontrol, harus jelas dan profesional. Yang tak kalah penting adalah meningkatkan kualitas dari produk dan kemasannya”, kata Puspayoga.

Di samping itu, lanjut Puspayoga juga berharap agar pembinaan terhadap wirausaha muda terus dijalankan. “Tujuannya, agar mereka mampu menganalisa pasar, dengan menciptakan produk yang memang dibutuhkan pasar. Jangan lupa pula faktor kemasan produk. Hingga akhirnya, produk yang dihasilkan mampu berdaya saing di pasaran, baik pasar lokal maupun global”, kata Puspayoga.

Menkop UKM juga mengungkapkan bahwa meningkatnya rasio kewirausahaan Indonesia dari satu komaan menjadi 3,01%, berkat gerakan kewirausahaan yang digelorakan semua elemen, termasuk Astra. “Saya meyakini, dengan sinergi seluruh elemen dan stakeholder, rasio kewirausahaan akan terus meningkat setiap tahunnya, dan mampu mengejar rasio kewirausahaan negara-negara maju. Saya juga terus mendorong daerah untuk aktif menggelar pelatihan-pelatihan kewirausahaan di seluruh Indonesia”, imbuh Puspayoga.

Menurut Puspayoga, bila rasio kewirausahaan meningkat, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan ikut meningkat, pengangguran dan kemiskinan menurun, serta terjadinya pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama,  Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi mengatakan, tahun ini pihaknya sudah melakukan pembinaan terhadap 10 ribu lebih UMKM di seluruh Indonesia. Bahkan, tercatat sekitar 97 ribu anak muda sebagai penerima manfaat dari program Astra Start-Up Challenge untuk turut mendorong kemajuan wirausaha muda di Indonesia mampu berkembang. “Tahun ini, kita memberikan apresiasi kepada 381 UMKM binaan Yayasan Dana Bakti Astra atau YDBA, yang mampu meningkatkan level usahanya alias naik kelas”, kata Aloysius.

Aloysius menjelaskan bahwa Astra memiliki empat pilar dalam berkontribusi dan memberi manfaat bagi masyarakat. Yakni, Astra Sehat, Astra Cerdas, Astra Hijau, dan Astra Kreatif. “Astra Kreatif itu intinya turut melakukan pemberdayaan KUMKM di seluruh Indonesia. Yang pasti, Astra akan terus berbagi inspirasi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia”, pungkas dia.

Kemenkop Sosialisasi Program PLUT KUMKM di Sumbar

Kementrian Koperasi dan UKM menggelar acara sosialisasi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada Jumat (21/7). “Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada stakeholder yang menangani pembinaan koperasi dan UMKM”, kata Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati, dalam sambutannya.

Dalam acara hasil kerjasama dengan Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Lima Puluh Kota, Yuana mengatakan bahwa yang akan dicapai dalam program PLUT-KUMKM diantaranya sebagai lembaga mediasi bagi pengembangan KUMKM yang mencakup peningkatan kinerja produksi, kinerja pemasaran, akses ke pembiayaan, pengembangan SDM, serta kinerja kelembagaan dalam rangka meningkatkan daya saing KUMKM. “Juga untuk mendorong peningkatan kapasitas dan kemandirian KUMKM melalui penyediaan jasa non finansial yang menyeluruh, terintegritas, dan bersifat stimulus”, papar Yuana.

Selain itu, lanjut Yuana, PLUT KUMKM juga sebagai mediasi bagi KUMKM dalam membangun hubungan dengan pemangku kepentingan lainnya.

Yuana menambahkan, acara sosialisasi dihadiri 100 orang peserta yang berasal dari dinas koperasi setempat, BAPPEDA, Asisten II Bidang Ekonomi, Kepala OPD terkait, Komisi III DPRD, Kadin Daerah, Dekopinda, Pengurus IWAPI, Bank BRI, Bank Sumbar, dan para pelaku usaha koperasi dan UMKM. “PLUT KUMKM sebagai program terobosan menjadi suatu sistem yang di dalamnya mensinergikan pemangku kepentingan. Sehingga, pembangunan gedung ini dapat dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat”, imbuh Yuana.

Ke depannya, kata Yuana, PLUT KUMKM diarahkan pada lima layanan. Pertama, Bidang Kelembagaan, yang meliputi pembentukan dan pemantapan kelembagaan koperasi dan UMKM, fasilitasi legalitas, penguatan sentra UKM/Klaster/Kawasan, pendataan, pendaftaran dan perizinan KUMKM advokasi perlindungan KUMKM.

Kedua, Bidang Sumber Daya Manusia, pelatihan perkoperasian, kewirausahaan dan magang. Ketiga, Bidang Produksi meliputi akses bahan baku, pengembangan produk (peningkatan kualitas, desain, merek dan kemasan), diversivikasi produk, standardisasi dan sertifikasi produk, aplikasi teknologi;

Keempat, Bidang Pembiayaan meliputi penyusunan rencana bisnis proposal usaha, fasilitasi dan mediasi kelembagaan keuangan bank dan non bank, pengelolaan keuangan, dan advokasi permodalan. “Kelima, Bidang Pemasaran meliputi informasi pasar, promosi, peningkatan akses pasar, pengembangann jaringan pemasaran dan kemitraan, pemanfaatan IT (e-commerce), serta pengembangan data base yang terkait pengembangan KUMKM”, papar Yuana lagi.

Sejak 2013 hingga sekarang, Kemenkop telah membangun 50 PLUT KUMKM melalui dana Tugas Pembantuan dan satu PLUT-KUMKM Mandiri yang tersebar di 24 Provinsi/DI dan 27 Kabupaten/Kota. “Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi salah satu dari dua lokasi yang akan dibangun gedung PLUT KUMKM Tahun Anggaran 2017 melalui dana Tugas Pembantuan APBN Kementerian Koperasi dan UKM”, kata Yuana.

Sedangkan satu lokasi lainnya adalah Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. “Pemilihan Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai penerima program PLUT KUMKM didasarkan pada peta penyebaran PLUT KUMKM bahwa Provinsi Sumatera Barat belum pernah menerima program PLUT-KUMKM”, kata Yuana.

Dalam rangka penyelenggaraan Program PLUT KUMKM dan untuk solusi terhadap kebutuhan Program Pendampingan KUMKM di daerah, Yuana mencanangkan Program PLUT KUMKM Mandiri yang merupakan replikasi program secara swadaya dari Pemerintah Provinsi/DI/Kabupaten/Kota dengan menggunakan sarana dan prasarana (aset gedung) yang tersedia milik Pemerintah Provinsi/DI/Kabupaten/Kota akan difungsikan sebagai PLUT-KUMKM.
“Kebijakan tentang PLUT KUMKM Mandiri sebagaimana peraturan Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Nomor : 02/PER/DEP.4/I/2017 tanggal 3 Januari 2017 tentang petunjuk teknis PLUT-KUMKM pada Pasal 6″, tukas Yuana.

Komitmen Bupati

Di samping itu, Yuana juga mengakui bahwa pihaknya mengadakan pertemuan dengan Bupati Lima Puluh Kota dalam rangka menegaskan kembali komitmen Pemkab dalan pelaksanaan pembangunan fisik gedung PLUT KUMKM. “Pembangunan gedung PLUT harus sesuai prosedur dan akuntabel, serta memastikan dukungan APBD untuk kelengkapan peralatan PLUT KUMKM, pemagaran lahan, hingga pemeliharaan, serta optimalisasi PLUT KUMKM”, ungkap Yuana.

Menurut Yuana, pembangunan gedung PLUT mulai dikerjakan tahap awal oleh pihak ketiga pemenang lelang. Target  penyelesaian gedung sesuai kontrak selesai pada 10 Desember 2017. Untuk pembangunan fisik gedung dialokasikan anggaran sebesar Rp3 miliar dari APBN Kemenkop dan UKM”, pungkas Yuana.

Menkop UKM: Belajar Kembangkan KUMKM Dari Jatim

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga mengatakan bahwa kemajuan dan perkembangan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (KUMKM) di wilayah Jawa Timur demikian pesat. “Waktu masih menjadi Wakil Gubernur Bali, saya banyak belajar dari Jatim bagaimana mengembangkan KUMKM. Salah satunya adalah mengenai penjaminan kredit untuk KUMKM. Jatim merupakan provinsi pertama di Indonesia yang memiliki Jamkrida. Setelah itu pun saya mendirikan Jamkrida di Bali, sebagai Jamkrida kedua di Indonesia. Jadi, saya pikir, Kepala Daerah lain pun bisa belajar dari Jatim, bagaimana mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis KUMKM”, tegas Puspayoga pada peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-70 Tahun 2017 Tingkat Provinsi Jawa Timur, di Kabupaten Tulungagung, Jumat (21/7).

Di acara yang dihadiri Gubernur Jatim Soekarwo dan Bupati Tulungagung Syahri Mulyo, Menkop Puspayoga berharap agar Kepala Daerah tak lagi banyak-banyak membuat koperasi. Karena, saat ini, yang lebih penting adalah kualitas koperasi ketimbang kuantitas. “Lebih baik sedikit koperasi tapi berkualitas dengan jumlah anggota koperasi yang terus meningkat. Saat ini, kami sudah membubarkan koperasi sebanyam 43 ribu. Dan kami juga sedang membina sekitar 76 ribu koperasi yang sakit. Kalau yang sakit tidak bisa disehatkan, ya akan kita bubarkan. Karena, ke depan kita hanya akan melihat dan memiliki koperasi yang sehat saja”, tandas Puspayoga.

Terkait pembiayaan KUMKM, Puspayoga menjelaskan bahwa pemerintah sudah memiliki beberapa skim pembiayaan. Diantaranya, kredit usaha rakyat (KUR) yang bunganya saat ini sudah mencapai 9%. Pihaknya juga akan terus mendorong penyaluran dana bergulir dari LPDB KUMKM untuk pembiayaan koperasi. Bahkan, pemerintah juga tengah menggodok kredit ultra mikro Indonesia (KUMI) yang bunganya hanya 2%. “Untuk penyaluran KUMI, Kemenkop dan Kemenkeu sudah kerjasama dengan NU dan Muhammadiyah dalam penyalurannya kepada koperasi-koperasi. Dari koperasi akan disalurkan kepada anggotanya yang memang merupakan pelaku UMKM”, kata Menkop.

Menurut Puspayoga, peningkatan kinerja koperasi bisa dilihat dari torehan PDB Koperasi yang mencapai 3,99%, dari sebelumnya yang tak pernah bergerak dari level satu komaan selama bertahun-tahun. “Ini prestasi luar biasa dari Reformasi Koperasi yang sudah kita gulirkan. Tentunya juga ini semua merupakan hasil kerja dari para kepala daerah seperti Gubernur, Bupati, dan Walikota, di seluruh Indonesia. Saya yakin, PDB Koperasi akan terus meningkat bila semua elemen terus bersinergi. Karena, implementasi kebijakan pemerintah pusat berada di daerah”, ucap Menkop lagi.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jatim Soekarwo menegaskan bahwa pilihan pembangunan ekonomi melalui KUMKM merupakan pilihan yang tepat. “Lihat saja di beberapa negara Eropa dimana KUMKM-nya terpinggirkan, tingkat pengangguran mereka tinggi. Di Spanyol mencapai 18% dan Prancis 11%. Oleh karena itu, negara harus hadir dalam membela KUMKM dalam pertarungannya di pentas multinasional”, tegas Soekarwo.

Menurut Soekarwo, bila KUMKM diberdayakan dan diurus dengan baik, maka akan menjadi raksasa yang bisa bersaing dengan usaha besar lainnya. “Sekali lagi saya tegaskan bahwa KUMKM merupakan pilihan ekonomi yang tepat sebagai tulang punggung perekonomian nasional”, kata Gubernur Jatim seraya menyebutkan bahwa kontribusi KUMKM terhadap perekonomian Jatim sebesar 54,8%.

Soekarwo pun menekankan pentingnya memberdayakan perempuan dalam wadah koperasi, yaitu Koperasi Wanita atau Kopwan. “Potensi perempuan itu luar biasa untuk dikembangkan, karena sudah memiliki sifat dasar penuh kehati-hatian sejak lahir. Kami pernah menggulirkan program Kopwan hingga ke desa-desa, dengan bantuan permodalan sebesar Rp25 juta per desa untuk total jumlah desa sebanyak 8501 desa yang ada di Jatim”, papar Soekarwo.

Bupati Tulungagung Syahri Mulyo menambahkan, kinerja Kopwan di wilayahnya maju secara signifikan. Total aset Kopwan di Tulungagung sebesar Rp24,5 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp22 miliar. Bahkan, dari total jumlah koperasi yang ada di Tulungagung, 271 diantaranya merupakan Kopwan dan 105 Kopwan Syariah. “Kami akan terus menggelorakan Gerakan Sadar Koperasi bagi pembangunan ekonomi di Tulungagung”, kata Syahri.

Sedangkan mengenai KUMKM, Syahri mengatakan, saat ini Tulungagung memiliki 51 ribu unit UMKM dengan omzet sebesar Rp1,6 triliun. “Ke depan, kami akan terus melakukan pemberdayaan dan pembinaan terhadap UMKM sesuai Nawacita, seperti program revitalisasi pasar tradisional, pengembangan pusat layanan usaha terpadu atau PLUT, hingga pelatiha kewirausahaan. Kita akan kembangkan potensi ekonomi Tulungagung, diantaranya kerajinan batu sungai yang sudah diekspor, marmer, tenun, batik, ikan hias, produk pertanian, dan sebagainya”, pungkas Bupati Tulungagung.

Dekranas Rintis Pengembangan Potensi Tenun Gedok

Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) akan mengembangkan potensi tenun Gedok, kain tradisional warisan leluhur yang berasal dari Tuban Jatim.

Hal itu karena keberadaan kain ini sempat hampir punah, karena kurangnya peminat dari masyarakat lokal.

“Pengembangan potensi tenun Gedok itu sudah mulai kita rintis tiga bulan lalu bekerjasama dengan Kementrian Koperasi dan UKM dengan mengadakan pelatihan vocational proses produksi tenun Gedok. Dan sekarang ini diteruskan dengan pelatihan lanjutan agar para pengrajin tenun Gedok itu bisa naik kelas profesionalisme dan hasil produksiinya,” jelas Ketua Bidang Manajemen Usaha Dekranas, Bintang Puspayoga di Tuban, Rabu (19/7).

Hasilnya, sudah mulai kelihatan dengan produksi tenun Gedok yang kini lebih halus dan berkualitas.

“Karena kualitasnya makin bagus, nilaii jualnya pun makin tinggi. Harga selembar tenun Gedok yang dulu di pameran sekitar Rp 200 ribu, kini setelah kualitasnya bagus, sudah ada yang membelli sampai Rp 600 ribu per lembar,” katanya.

Bintang berharap untuk selanjutnya, pengembangan potensi tenun Gedok ini bisa dilakukan bersama-sama, baik Dekranas, Dekranasda Provinsi dan Kabupaten, maupun Pemda Provinsi dan Daerah.

“Kalau kita garap secara gotong royong, saya optimis tenun Gedok akan kembali terangkat, dan makin memperkaya warisan budaya leluhur,” tambahnya.

Keistimewaan Gedok

Yang membuat tenun Gedog terasa begitu istimewa adalah proses pembuatannya yang sangat panjang.

Para pengrajin mengakui, proses pembuatan kain tradisional ini cukup memakan waktu yang lama dan lebih sulit dari proses pembuatan batik pada umumnya.

Hal itu mulai dari proses awal, dengan memanen pohon kapas terlebih dahulu. Lalu dilanjutkan dengan memintal /menganti kapas menjadi benang, dicelupkan ke kanji agar kaku, lalu mulai proses tenun, baru dicelup warna.

Untuk membuat sehelai kain tenun Gedog, membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Tekstur kain tenun Gedog memang agak kaku dan sedikit keras dibandingkan dengan tenun kebanyakan dari daerah lainnya.

Hal itu karena dahulu tenun Gedog dipakai untuk menggendong kayu dari ladang dan untuk taplak meja. Namun kini pengrajin juga mulai memdiversifikasinya menjadi tas dan pakaian.

Sentra Industri

Wignyo Rahadi, pengurus Dekranas bidang daya saing produk menjelaskan, langkah-langkah yang sudah dikembangkan Dekranas dalam mengangkat tenun Gedok ini secara umum ditujukan memangkas proses produksi sekaligus meningkatkan kualitas tenun yang dihasilkan.

“Pertama, dalam proses menganti atau memintal kapas menjadi benang, yang selama ini memutarnya pakai tangan, pemutarnya kita ganti dengan dinamo, sehingga
putaran lebih cepat dan benangnya jadi lebih rata,” jelasnya.

Kedua, agar kualitas tenun lebih bagus, maka sisir tenun makin dirapatkan dari 500 (sisir jarang) menjadi 1.000 (sisir rapat).

Dengan langkah diatas, maka proses pembuatan tenun Gedok bisa dipercepat sampai empat tahapan, tanpa menghilangkan ciri khas benang kapas tenun Gedok.

Tahapan selanjutnya, memodernisasi pembuatan tenun Gedok dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) guna meningkatkan kualitas dan kuantitas tenun Gedok.

” Dengan menggunakan ATBM, kain tenun bisa menjadi lebih halus dan lebar kain bisa lebih lebar dari 90 cm menjadi 115 cm, sementara untuk panjangnya bisa disesuaikan,” jelasnya.

Setelah mwndapatkan tenun Gedok berkualitas, tahap selanjutnya memadukannya dengan desain membuat desain tenun maupun batik yang lebih bagus dan modern tanpa memghilangkan ciri khas tenun Gedok.

Tahap terakhir dengan menjadikan Tuban sebagai sentra produksi dan penjualan produk busana kain tenun maupun batik Gedok.

Dekranas Apresiasi Jatimnomics dalam Atasi Kendala Klasik UKM

Dewan Kerajinan Nasiional (Dekranas) mengapresiasi konsep Jatimnomics yang digagas Pemda Jatim, dalam menangani kendala klasik yang dialami UkM (Usaha Kecil Menengah), yaitu produksi, permodalan dan pemasaran.

” Konsep Jatimnomics saya kira cukup ampuh dalam menyelesaikan persoalan klasik UKM. Kini tinggal UKM nya, apakah mau maju atau tidak,” kata Ketua Bidang Manajemen Usaha Dekranas, Bintang Puspayoga, usai membuka
“Sinergi Kegiatan Kementrian Koperasi dan UKM (Kemenkop dan UKM) dengan Dekranas, Rabu (19/7) di pendopo Kab Tuban Jatim

Bintang yang juga Penasehat DWP (Dharma Wanita Persatuan) Kemenkop dan UKM itu mengatakan pengrajin yang umumnya UKM itu juga harus meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam menghasilkan satu produk.

” Karena itulah pelatihan terus dilakukan khususnya yang vocational. Dan saya gembira pelatihan di Tuban ini adalah pelatihan lanjutan yang bisa membawa pengrajin dan UKM untuk bisa naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya.

Pelatihan lanjutan ini dilakukan antara lain karena Koab Tuban dinilai oberhasil dalam omelakukan pelatihan dasar, khususnya ppelatihan vocational tenun Gedok yang merupakan salah satu kerajinan khas kab Tuban.

” Saya melihat hasil produksi tenun Gedok sekarang sudah jauh lebih bagus,” tambahnya.

Pengembangan potensi tenun Gedok ini, tidak akan berhenti sampai disini saja, namun akan terus disempurnakan mulai dari modernisasi proses produksi sampai pendirian sentra penjualan pakaian jadi berbahan tenun Gedok.

Namun kata Bintang, konsep pengembangan tenun Gedok ini mesti melibatkan semua unsur, baik Dekranas, Dekranasda Provinsi maupun Kabupaten, termasuk juga didalamnya dinas-dinas terkait baik di Pemda Provinsi maupun Kabupaten.

Dekranas akan membawa konsep pengembangan tenun Gedok ini dalam Rakernas pada akhir September mendatang.

” Akan kami jadikan role model untuk produksi 100 persen Indonesia, karena mulai dari bahan baku berupa kapas sampai jadi kain tenun maupun pusat penjualan pakaian jadi bernuansa konten lokal, ada dan dilakukan di dalam negeri,” kata Bintang.

Sementara itu Kadis Koperasi dana UKM Jatim, Mas Purnomo Hadi mengatakan kegiatan semacam ini ala dilakukan secara kontinyu di 38 kab di Jatim.

“Kita akan lakukan secara rutin sehingga semua UKM, wirausaha pengelola koperasi, dapat meningkatkan kualitas usahanya.

Kadis menjelaskan saat ini di Jatim ada 31.700 Koperasi dan 8 juta UMKM.

“ini jumlah yang tidak sedikit, karena itu pembimaan usaha mikro kami serahkan ke kabupaten masing masing; untuk UKM oleh provinsi sedang menengah atas ke pusat,” jelasnya.

Tiga Pilar

Kadis Mas Pur memgakui kendala pengrajin dan UKM terutama masalah pasar, produksinya dan pembiayaan

Jatimnomics memiliki tiga
pilar pengembangan pengrajin, UKM maupun koperasi.

Ketika pengelola koperasi maupun UKM ada masalah produksi, maka akan dibantu melalui diklat /inkobantor/BDC (bussines developtment center) secara gratis. ” Kami menyiapkan semua mulai dari materi, tenaga ahli dan sebagainya,”katanya.

Untuk kendala permodalan, Jatimnomics melalui bank Jatim menyediakan
kredit tani dengan bunga 6 persen pertahun.

Dalam hal ini Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida)
menyiapkan dana penjaminan.

Pemda Jatim juga mengajak
LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) untuk ikut menyalurkan dana ke koperasi dan UKM, dan sudah terrealisasi lebih dari Rp 1 triliun dengan NPL (Non Performing Loan) dibawah 5 persen.

Sementara untuk masalah pasar,
seharusnya tidak perlu ditakuti, tapi jadi tantangan.

“Karena itu momen-momen penting seperti pameran dagang harus dimanfaatkan
khususnya dalam menghadapi serbuan produk inpor yang membanjir.

Kemenkop Beri Peluang Koperasi Kelola Resi Gudang

Deputi Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati mengatakan, Kemenkop memberikan peluang kepada koperasi untuk melakukan diversifikasi usaha, yaitu dalam pengelolaan sistem resi gudang (SRG). “Dasar hukumnya mengenai hal itu adalah Undang-undang Nomor 25 Tahun1995 tentang perkoperasian. Itu dalam rangka perkuatan kelembagaan dan pengembangan usaha koperasi. Selain itu, juga ada UU Nomor 9 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 9 Tahun 2011 tentang Sistem Resi Gudang”, kata Yuana pada acara Capacity Building Koperasi Calon Pengelola Gudang SRG di Jakarta, Rabu (19/7).

Yuana menjelaskan, jumlah peserta sebanyak 26 orang, yang terdiri dari 13 Koperasi penerima Bansos dengan 13 pendamping dari 13 dinas yang membidangi KUKM. “Dari 13 koperasi penerima Bansos baru dua koperasi ditetapkan sebagai pengelola. Yaitu, KSU Gayo Mandiri Aceh (2016) dan KUD Anugerah, Grobogan, Jawa Tengah (2016). Sementara dua koperasi lainnya masih dalam proses. Diantaranya, KUD Perpadangan, Bojonegoro, Jawa Tengah, dan KUD Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah”, kata Yuana.

Sedangkan koperasi-koperasi lainnya adalah KUD Sinar Selatan (Lampung), KUD UPJA Rezeki Tani (Kuningan, Jabar), KUD Pringgodani (Demak), KUD Dworowati (Demak), KUD Karya Bhakti (Jepara), KUD Maratani (Purworejo), KUD Nugroho (Kediri), KSU BMT Karya Usaha Bersama (Katingan, Kalteng), dan KUD Tebas (Kalbar).

Menurut Yuana, beberapa permasalahan koperasi yang belum dapat ditetapkan sebagai pengelola pasca pendampingan. Antara lain, faktor internal koperasi, seperti SDM pengelola dan pengurus koperasi kurang kompeten, permodalan koperasi kurang kuat, dan minat koperasi yang kurang dalam pengelolaan SRG. “Sedangkan dari faktor eksternal koperasi, diantaranya kebijakan dari Bupati, intervensi dari OPD, dan kurang harmonis hubungan dengan aparatur pembina”, ungkap Yuana lagi.

Selain itu, pendampingan yang kurang optimal dari pendamping (PT BGR), tidak sampai tuntas sesuai kontrak kerjasama, juga menjadi permasalahan tersendiri. “Solusinya adalah Bimbingan Teknis penguatan kelembagaan dan usaha, bagi SDM pengelola atau pengurus koperasi, guna mendorong koperasi yang telah menerima Bansos SRG dan telah diberikan pendampingan menjadi tidak sia-sia”, tegas Yuana.

Oleh karena itu, lanjut Yuana, pada 2017 ini, pihaknya akan menggelar Bimtek Pendampingan kepada 12 koperasi. “Program acara itu akan dibagi di tiga lokasi. Yakni, di Jawa Timur dengan dua koperasi, di Jawa Tengah dengan satu koperasi, dan di Aceh dengan satu koperasi”, pungkas Yuana.

Kemenkop Dukung PPLIPI Kembangkan UKM Perempuan

Di usianya yang baru memasuki satu tahun, Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) memberikan bantuan permodalan kepada 1300 usaha mikro dan kecil (UMK) yang ada di wilayah Jabodetabek. Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengapresiasi langkah tersebut. “Program unggulan dari PPLIPI dengan memberikan bantuan permodalan bagi pelaku UMK perempuan berarti sudah membantu pemerintah dalam memberdayakan UMKM. Oleh karena itu, kami sangat mendukung”, kata Agus pada acara PPLIPI Peduli Bantuan Permodalan 1300 UMKM, di Jakarta, Rabu (19/7).

Di depan ratusan perempuan pelaku UMKM se-Jakarta, Agus pun merasa bangga terhadap kehadiran PPLIPI karena program bantuan permodalan itu tidak menggunakan dana pemerintah, melainkan swadaya dari para pengurusnya. “Karena, Kemenkop dan UKM sudah tidak lagi memiliki dana bantuan sosial atau bansos”, kata Agus.

Namun, lanjut Agus, Kemenkop UKM menawarkan program-program unggulan yang dimilikinya. Diantaranya, Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bunganya sebesar 9%. Bahkan, tahun depan suku bunga kredit KUR akan turun lagi mejadi 7%. Selain itu, Kemenkop UKM juga menggulirkan program pengurusan hak cipta secara gratis, ijin usaha mikro dan kecil (IUMK), hingga pelatihan-pelatihan seperti pelatihan perkoperasian, kewirausahaan, manajerial usaha, dan sebagainya. “PPLIPI juga bisa memanfaatkan dana bergulir dari LPDB KUMKM”, imbuh Agus lagi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PPLIPI Indah Suryadharma Ali mengatakan, di usia satu tahun PPLIPI sudah memiliki beberapa program unggulan. Pertama, memberikan bantuan permodalan bagi usaha mikro dan kecil (UMK) perempuan anggota PPLIPI. “Permodalan merupakan kendala yang selama ini membelit UMK perempuan. Nah, dengan tambahan bantuan modal ini maka diharapkan bisa meningkatkan usahanya. Otomatis maka pendapatan dan keuntungan pun akan meningkat. Ujung-ujungnya adalah keluarga akan lebih sejahtera”, kata Indah.

Oleh karena itu, Indah berharap agar bantuan permodalan dari PPLIPI ini benar-benar digunakan untuk modal usaha, bukan untuk keperluan lainnya. “Para penerima bantuan itu melalui proses yang cukup panjang, dari mulai tahap seleksi hingga verifikasi di lapangan yang dilakukan oleh tim kecil dari kami. Mereka blusukan hingga ke pelosok-pelosok wilayah Jabodetabek agar bantuan menjadi tepat sasaran”, jelas Indah.

Selain bantuan permodalan, lanjut Indah, PPLIPI juga mempunyai program unggulan lainnya. Diantaranya, melakukan pembinaan bagi UMK perempuan agar mampu meningkatkan daya saing produknya, menjadi jembatan bagi produk UMK perempuan yang akan memasarkan produknya ke luar negeri, hingga program pendidikan dan kesehatan bagi keluarga. “Dengan begitu, suatu saat nanti kita bisa melihat peran perempuan bisa maksimal dalam memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. Kami yakin bisa karena perempuan memiliki ciri khas yang ulet, jujur, dan mau kerja keras”, pungkas Indah.

Terbukti Lancar, Penyaluran Kredit Perbankan ke Koperasi Lewat Linkage Perlu ditingkatkan

Kementerian Koperasi dan UKM menilai program kemitraan perbankan dengan koperasi melalui Linkage Program selama ini berjalan lancar, terbukti dengan rendahnya Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah, yang tercatat melalui Linkage Program antara perbankan dengan koperasi. Sebagai contoh data terakhir menunjukan NPL Lingkage Program di Bank Jabar Banten (BJB)

kredit linkage melalui koperasi hanya 1,07 persen atau jauh dibawah batas maksimum 5,0 persen,” kata Sekretaris Kemenkop dan UKM Agus Muharram, dalam Gathering Kemitraan Koperasi 2017 di Jakarta Selasa (18/7).

Agus menjelaskan, Gathering Kemitraan Koperasi dengan perbankan yang digagas Bank BJB ini dimaksudkan untuk mengevaluasi Linkage Program selama ini, dimana perbankan menyalurkan kredit ke koperasi untuk selanjutnya diteruskan oleh koperasi kepada para anggotanya.

” Linkage Program ini terbukti berjalan baik, koperasi bisa menyalurkan kredit ke anggota, dan anggota koperasi bisa menngembangkan usahanya. Dengan demikian diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan anggota,” kata Agus.

Sesmenkop dan UKM menilai suku bunga yang disalurkan lewat linkage program ini cukup kompetitiif. Namun demikian diharapkan bisa lebih rendah lagi sehingga koperasi dan para anggotanya bisa lebih dapat berdaya saing dalam menyelenggarakan usahanya ” Demikian juga dengan volumenya, saya kira masih bisa ditambah ata u ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Sementara itu Dirut Bank BJB Ahmad Irfan mengatakan Bank BJB sangat memperhatikan perkembangan Koperasi dan UKM dan menjadikan keduanya sebagai mitra dalam berkembang bersama.

Dalam Harkopnas ke 70 di Makassar minggu lalu, Bank BJB mengikuti secara aktif dan memperkenalkan produk kredit kepada koperasi, dan meningkatkan portofolio Lingkage Program dengan koperasi.

Dalam peringatan Harkopnas itu Bank BJB juga melakukan MoU dengan Dekopin Dewan Koperasi Indonesia) dan menandatangani penyaluran kredit kepada Koperasi Sahabat Mitra Sejati dan Koperasi Awak Pesawat Garuda.

Kemenkop Tingkatkan Kapasitas SDM KUMKM di Tulungagung

Kementerian Koperasi dan UKM menggelar pelatihan peningkatan kapasitas bagi SDM KUMKM, di Tulungagung, Jawa Timur. Pelatihan ini melibatkan Dinas Koperasi, UKM, dan pelaku Pasar daerah setempat.

Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM Prakoso BS mengatakan tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi SDM pengelola koperasi dan LKM.

Selain itu, lanjut Prakoso pelatihan juga dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat jiwa wirausaha bagi masyarakat khususnya bagi kelompok strategis dan kelompok nelayan di Kabupaten Tulungagung.

“Sasaran pelatihan ini adalah para pengelola koperasi, pengelola LKM dan juga masyarakat umum,” ujar Prakoso dalam sambutannya, Senin (17/7/2017).

Menurut Prakoso, pelatihan ini penting dilakukan guna dapat memaksimalkan potensi lokal, sehingga tidak hanya terpaku pada marmer. Tulungagung terkenal sebagai satu dari beberapa daerah penghasil marmer terbesar di Indonesia.

“Identitas potensi lokal yang ada di Kabupaten Tulungagung akan lebih dimaksimalkan lagi. Tidak hanya terpaku dengan marmer. Dan dalam pengemasan produk barang agar lebih menarik lagi minat konsumen. Sehingga, menambah nilai jual lebih tinggi lagi,” kata Prakoso.

Pelatihan yang dibuka oleh Bupati Tulungagung Syahri Mulyo itu, dilaksanakan selama tiga hari mulai dari 17-19 Juli 2017 dengan diikuti sebanyak 180 orang peserta yang berasal dari wilayah Kabupaten Tulungagung.

Adapun kegiatan pelatihannya terdiri dari pelatihan bagi pengelola LKM berbasis kompetensi sebanyak 30 orang, pelatihan manajemen SDM KUKM berbasis kompetensi bagi pengelola koperasi (kasir), serta uji kompetensi sebanyak 30 orang.

Dalam kesempatan itu juga digelar pelatihan kewirausahaan melalui Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) bagi kelompok strategis sebanyak 80 orang, serta pelatihan kewirausahaan melalui GKN bagi nelayan sebanyak 40 orang.

Astragraphia Dukung Sastra Lintas Rupa Untuk Melestarikan Karya Sastra HB Jassin

 

Melalui printer Fuji Xerox Color 1000i Press, Astragraphia Document Solution dan Fuji Xerox memberikan dukungan untuk Sastra Lintas Rupa dengan mencetak majalah independen, Frasa

 

Pengarsipan sangat diperlukan untuk mengabadikan dan melestarikan semua dokumen dari masa ke masa, termasuk pengarsipan seni dan budaya. Arsip ini nantinya akan dikelola oleh badan pengarsipan baik swasta maupun pemerintah untuk ditelusuri kembali faktanya di masa yang akan datang. Pengarsipan karya diperlukan agar karya-karya tersebut dapat dijadikan catatan penting dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan. Salah satu badan pengarsipan terlengkap di Indonesia adalah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang tidak lekang oleh zaman. Namun sayang, yayasan ini kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Kehadiran yayasan ini seharusnya dapat menjadi daya tarik untuk menelusuri kebudayaan bangsa atau bahkan bisa menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk saling bertukar pikiran mengenai seni dan budaya.

Selama ini, sebagian besar masyarakat yang mengolah arsip Pusat PDS HB Jassin hanyalah orang-orang yang berkecimpung dalam bidang sastra. Adapun profesi mereka seperti sastrawan, guru bahasa, mahasiswa sastra, dan lainnya. Kegiatan pengolahan arsip ini belum dilirik oleh profesi lainnya. Padahal PDS HB Jassin memiliki peranan penting bagi masyarakat dan budaya sastra di Indonesia. Inilah yang mendorong sekelompok insan muda kreatif bernama Sastra Lintas Rupa untuk mengajak masyarakat meningkatkan kembali kepedulian terhadap pengelolaan arsip, khususnya PDS HB Jassin dengan metode yang lebih modern.

Metode yang diterapkan oleh Sastra Lintas Rupa diharapkan dapat lebih mudah diterima masyarakat luas, karena menggunakan cara yang lebih ringan dan sederhana dalam mengelola informasi. Sistem yang dicanangkan adalah dengan menerjemahkan arsip-arsip PDS HB Jassin ke dalam medium visual. Hal ini bertujuan untuk menyajikan alternatif pengalaman baru mengenai arsip melalui karya seni yang menyenangkan.

Sastra Lintas Rupa selama ini mengumpulkan dana secara mandiri melalui penjualan buku, dan merchandise. Sastra Lintas Rupa telah menerbitkan majalah independen bernama Frasa. Majalah Frasa ini merupakan hasil eksperimen olah visual arsip PDS HB Jassin yang bertemakan kuliner nusantara. Pemilihan nama Frasa ini diyakini dapat mempertemukan rasa dan sastra, yang kemudian dipublikasikan sebagai majalah independen. Sebanyak 20% dari hasil penjualan Majalah Frasa akan dialokasikan untuk Gedung Arsip HB Yassin.

Astragraphia Document Solution memberikan dukungan kepada Sastra Lintas Rupa dengan mencetak Majalah Frasa menggunakan printer Fuji Xerox Color 1000i Press. Fuji Xerox Color 1000i merupakan produk dari Fuji Xerox yang memiliki teknologi cetak tinta gold dan silver terbaik di kelasnya. Menariknya, printer ini disokong kemampuan mencetak langsung pada media kertas berwarna hitam dan merah. Fuji Xerox Color 1000i Press adalah printer full color yang memiliki resolusi 2.400 x 2.400 dpi. Mesin ini mampu mencetak dengan kecepatan hingga 100 ppm.

Melalui dukungan ini, Astragraphia berharap masyarakat Indonesia dapat bersama-sama menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian sejarah seni dan budaya bangsa. Semoga gerakan ini dapat menginspirasi masyarakat untuk merawat, menjaga, dan mengembangkan seni dan budaya Indonesia, khususnya seni sastra.” ujar Arifin Pranoto, Direktur PT Astra Graphia Tbk.