Hindari Penipuan Berkedok Koperasi, Kemenkop dan UKM Himbau Masyarakat Kenali Lembaga dan Badan Hukumnya

IMG-20181204-WA0001

Masyarakat diminta mengenali terlebih dahulu lembaganya, usahanya dan badan hukumnya pada pihak yang menamakan diri koperasi. Di era digital saat ini banyak sekali yang memanfaatkan situasi untuk melakukan penipuan dengan mengatasnamakan koperasi.

“Saat ini banyak kasus yang melakukan kegiatan layaknya koperasi, menghimpun dana namun belum berbadan hukum koperasi,” kata Deputi Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno saat acara Fokus Group Discusiion dengan tema ‘Waspada Penipuan Berkedok Koperasi’, di Jakarta selasa (4/11/2018).

Meski demikian, imbuhnya, Kemenkop dan UKM tidak henti-hentinya memberikan pembinaan terhadap satgas-satgas di daerah untuk melakukan pengawasan koperasi. Dekopinda sebagai pasukan yang terdepan untuk menindak pihak-pihak yang mengatsnamakan koperasi, diharapkan selalu melakukan pengawasan koperasi di daerah.

Selain Suparno, hadir sebagai narasumber yaitu Ketua Satgas Waspada Investasi OJK Tongam Lumban Tobing dan Ketua KSP Nasari Sahala Panggabean yang sekaligus sebagai Ketua Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia.

Menurut Ketua Satgas Waspada Investasi OJK Tongam Lumban Tobing, para pelaku kejahatan investasi ilegal di lapangan lebih canggih. Begitupun masyarakat lebih mudah tergiur dengan penawaran investasi yang ada.

“Tingkat pemahaman masyarakat terhadap koperasi bisa jadi masih kurang, jangan-jangan masyarakat hanya memahami koperasi secara leterlijt dan tidak memahaminya secara mendalam sehingga mudah tertipu,” jelas Tongam Lumban Tobing.

Untuk itu ia minta, di daerah-dserah perlu ditempatkan pimpinan dinas koperasi yang sesuai dengan kompetensinya. Kepala Dinas Koperasi harus orang yang memahami koperasi sehingga bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Sementara itu Sahala Panggabean mengungkapkan, masyarakat berharap bisa mendapatkan pinjaman uang mudah, tanpa agunan, cair secara cepat berapapun bunganya. Masyarakat juga berharap memiliki simpanan atau bisa investasi di koperasi yang bisa memberikan bunga lebih tinggi.

“Adanya dua harapan tersebut memicu sekelompok orang (oknum) yang berusaha memenuhi permintaan masyarakat dengan cara menawarkan kemudahan pinjaman dan produk simpanan dan investasi berbunga tinggi dengan mencatut nama koperasi,” ungkap Sahala.