Kemenag Tangsel Bangkitkan Gowes untuk Kerukunan

Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangerang Selatan membangun kerukunan melalui Gowes Kerukunan atau bersepeda santai. Selain memperingai Hari Amal Bakti (HAB) ke-73 Kementerian Agama RI, bersepeda santai yang kemudian disebut “Gowes Kerukunan” dimaksudkan untuk membangkitakan kesadaran tentang pentingnya hidup berdampingan antarsesama pemeluk agama.

Sekitar 700 peserta turut serta dalam Gowes Kerukunan Kemenag Tangsel. Tidak hanya diikuti pegawai di lingkungan Kemenag Tangsel, tetapi juga melibatkan pengurus masjid, pengasuh pondok pesantren, dan para guru dari lembaga-lembaga pendidikan di Tangsel.

Hajat yang digelar pada hari Minggu (13/01/2019) juga melibatkan elemen masyarakat dari berbagai komunitas dan agama. Selain diikuti oleh pengurus NU, Muhammadiyah, dan MUI, sejumlah tokoh agama-agama seperti Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, dan Konghucu berkumpul di halaman Kemenag Tangsel.

Bersepeda santai bersama umat beragama atau Gowes Kerukunan merupakan kali pertama digelar oleh Kemenag Tangsel. Kantor Kemenag Tangsel tidak hanya jadi pertemuan berbagai merk sepeda, tetapi juga berkumpulnya tokoh masyarakat dari lintas agama.” ujar Kepala Kemenag Tangsel Abdul Rojak.

Menurut Rojak, bersepeda santai tokoh-tokoh agama yang digelar oleh Kemenag Tangsel merupakan salah satu upaya Kemenag untuk menciptakan hidup rukun antarsesama Muslim sendiri dan antarpemeluk agama.

“Kita wajib memelihara kebersamaan antarsesama umat manusia. Kita juga wajib memupuk toleransi antarsesama pemeluk agama. Kita boleh beda dalam budaya, tapi kita wajib bersatu dalam kebangsaan,” ujar Rojak dalam sambutannya.

Rojak mengatakan, hidup rukun harus selalu digelorakan oleh kita sebagai anak bangsa. Upaya ini merupakan langkah suci yang tidak hanya dipesankan oleh negara. Agama melalui ajaran-ajarannya juga memberi pesan suci yang dapat dijadikan acuan. Nabi Muhammad Saw pun melakukan demikian ketika membangun Negara Madinah yang sebelumnya bernama Yatsrib.

Bangsa Indonesia yang merdeka tahun 1945 merupakan bangsa yang mengakui perbedaan baik budaya, bahasa, dan agama. “Manusia diciptakan berbeda dan karena itu harus mulai belajar menerima perbedaan,” ujar Rojak.

Jadi hidup rukun bukan hanya dipesankan oleh negara, tetapi juga oleh agama yang ajaran-ajarannya jadi acuan dalam menjalankan hidup keseharian.

Rojak lebih jauh menambahkan, pentingnya hidup berdampingan antarsesama pemeluk agama semakin urgen ketika negara sudah memasuki tahun politik. Kita harus membangun ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan), ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sesama anak negeri) dan ukhuwah diniyah (persaudaraan keagamaan). Perbedaan tidak boleh mengorbankan persatuan bangsa.

“Dengan gowes kita memperoleh manfaat tidak hanya badan yang sehat, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan sesama warga Tangsel yang berbeda agama dan ideologi,” ujar Abdul Rojak (YBi)