LPDB-KUMKM Beri Kemudahan Akses Dana Bergulir Bagi Santriprenuer

Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) akan memberikan kemudahan bagi Santri pengusaha atau santripreneur dalam mengakses pembiayaan dana bergulir. Langkah ini sebagai upaya LPDB-KUMKM dalam mendorong Santripreneur mengembangkan usahanya.

“Kita akan ikut berpartisipasi dalam rangka pengembangan Santriprenuer. Tentu mereka akan kita berikan semacam bukan hadiah tapi bentuk penghargaan dan kemudahan dalam mengakses dana bergulir LPDB,” ungkap Direktur Utama LPDB-KUMKM Braman Setyo saat menerima kunjungan Inisiator dan Pembina Santripreneur Indonesia, KH Ahmad Sugeng Utomo atau yang biasa disapa Gus Ut di kantornya, Jakarta, Kamis (2/10/2017).

Santripreneur atau santri pengusaha akan diberikan bantuan perkuatan modal maksimal Rp 100 juta, dan tenaga pendamping yang akan melakukan pendampingan Santripreneur dalam menjalankan kegiatan usahanya setelah mendapatkan suntikan modal usaha. Dengan adanya pendampingan diharapkan bantuan modal yang diberikan dapat dipergunakan sesuai kebutuhan.

“Saya kira ini sangat membantu apa yang diharapkan para pimpinan pondok pesantren bahwa santri-santri ini tidak hanya mendalami ilmu Agama, tapi juga bagaimana bisa bermanfaat bagi pengembangan usaha-usaha di lingkungan masyarakat seperti itu,” kata Braman.

Braman mengatakan bantuan modal tersebut akan sangat tepat diberikan melalui koperasi santri, atau koperasi pondok pesantren. Selanjutnya koperasi yang akan menyalurkan kepada Santripreneur yang ada di pesantren-pesantren. Namun begitu, Braman mengemukakan bahwa LPDB bisa juga memberikan bantuan modal langsung kepada Santripreneur yang usahanya sudah established.

“Ini yang saya harapkan bahwa semakin banyak Santriprenuer mengakses dana ke LPDB itu akan semakin bagus. Berarti tingkat kemandirian semakin kuat,” tandasnya.

LPDB-KUMKM akan mengalokasikan dana bergulir sebesar Rp 100 miliar pada 2018, dengan perkiraan tambahan Rp 50 miliar guna mendukung pengembangan wirausaha di tanah air. Dana tersebut akan disalurkan kepada koperasi dan UMKM baik menggunakan pola konvensional maupun syariah. Khusus untuk pola syariah, penyalurannya akan disesuaikan dengan program Santripreneur.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Ut mengatakan potensi tumbuhnya Santripreneur dari 33 ribu pesantren yang ada di Indonesia sangat besar. Hal inilah yang membuatnya terdorong untuk mendirikan Sekolah Bisnis Santripreneur. Sekolah ini akan membina anak muda khususnya para santri untuk menjadi pengusaha, walaupun bergelut di dunia agama.

“Maka potensi Santripreneur Indonesia ini mulai kita garap untuk kita kembangkan, supaya kita bersama-sama untuk mewujudkan 10 persen entreprenuer di Indonesia. Sehingga Indonesia menjadi negara maju dan mandiri. Karena jumlah yang pantastik itu jadi ‘PR’ kita semua,” ujar Gus Ut.

Santri harus didorong menjadi wirausaha mandiri, akan tetapi untuk menjadi wirausaha perlu adanya sentuhan pemerintah dengan menyediakan program pelatihan dalam membuat rencana bisnis, legalitas, laporan keuangan, maupun bantuan perkuatan modal usaha.

Kalau secara stastik angka yang bisa lihat dari jumlah santri di Indonesia jumlahnya cukup pantastik antara 25-40 juta santri. Yang paling mungkin alumninya menjadi pengusaha karena di dalam pesantren sudah diajari mandiri,” ucap Gus Ut.

Gus Ut menilai pemerintah sudah memperhatikan dunia pesantren, salah satunya dengan menetapkan Hari Santri Nasional. Namun, ia berharap perhatian tersebut diwujudkan dalam bentuk program nyata. Para santri ingin berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan dengan membangun ekonomi negeri melalui Santripreneur. Dengan begitu target 10 persen jumlah penduduk Indonesia menjadi wirausaha bisa terwujud.

“Harapan kami dukungan ini tidak hanya sekedar wacana, tapi langkah-langkah teknis termasuk dari LPDB bagian dari pemerintah ikut memfasilitasi Santripreneur Indonesia dalam pengembangan usahanya sehingga Indonesia menjadi negara maju dan mandiri,” tukasnya.