Masyarakat Maritim Ingin Transhipment Jakarta Port Segera Diwujudkan

IMG_20171114_103754

Dalam program Nawa Cita yang digaungkan pemerintahan Jokowi-JK, Indonesia diharapkan dapat mandiri dalam bidang ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Pada sektor maritim, pemerintahan Jokowi-JK menginginkan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang merupakan pilar utama.

Untuk itu pemerintah mendorong agar pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menjadi pelabuhan unggulan Indonesia. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta kepada para stake holder untuk bersama-sama menjadikan pelabuhan Tanjung Priok menjadi lebih baik.

“Harus ada kesepakatan kita bersama untuk mewujudkan Jakarta Port sebagai suatu konsep transhipment, ini lebih baik karena barang-barang dari berbagai daerah di Indonesia dikumpulkan di Jakarta yaitu di pelabuhan Tanjung Priok kemudian diangkut langsung ke negara tujuan,” kata Budi Karya Sumadi saat menjadi keynote speaker sekaligus membuka diskusi nasional dengan tema “Mewujudkan Transhipment Jakarta Port”, di Jakarta, selasa (14/11/2017) yang digelar oleh Ocean Week – Chandra Motik Maritime Center.

Budi Karya ingin sekali teman-teman di daerah memberikan support untuk mewujudkan hal ini. Apabila ada hal-hal yang timbul seperti masalah teknis maupun biaya, maka Budi minta semua pihak harus membantu membicarakannya.

Sementara itu Dr Hj Chandra Motik Yusuf SH MSc mengatakan, sebagai masyarakat maritim, sudah lama menunggu hal ini dapat diwujudkan. Ia ingin barang-barang dari Jakarta bisa dikirim langsung ke negara tujuan, tanpa harus lagi transit di Singapore.

Masih segar dalam ingatan kita, April 2017 lalu ada terobosan dalam dunia logistik terjadi, yaitu untuk pertama kalinya kapal dari Perancis, Compagnic Maritime d’Affretement-Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM), dengan kapasitas 8.500 Teus, sandar di Pelabuhan Tanjung Priok.

Kapal kargo raksasa CMA-CGM ini akan mengangkat sebanyak 2.300 teus dari Pelabuhan Tanjung Priok untuk dibawa langsung ke Amerika Serikat. Dari jumlah itu, sebanyak 22% kontainer berasal dari pelabuhan domestik lain yang dibawa ke Pelabuhan Tanjung Priok (transhipment).

“Ini tentu dapat mendorong efisiensi pengiriman barang, yaitu tarif yang lebih murah dan waktu kirim barang menjadi lebih cepat,” ujar Chandra Motik dalam sambutannya.

Sebelumnya, imbuh Chandra Motik, pengiriman barang menuju Amerika Serikat harus terlebih dahulu singgah di Singapura. Diharapkan agar kedatangan kapal besar dari CGA-CGM tersebut dapat menjadi pemicu hadirnya kapal-kapal besar lainnya untuk singgah di Pelabuhan Tanjung Priok maupun pelabuhan-pelabuhan besar lainnya di Indonesia.

Akan tetapi ia mengingatkan, hal tersebut hanya dapat dilakukan apabila pelabuhan-pelabuhan di Indonesia memiliki kesiapan baik prasarana maupun sarana dalam menyediakan atau pelayanan jasa kepelabuhan dan jasa terkait dengan kepelabuhanan agar kapal-kapal besar tersebut dapat bersandar di pelabuhan Indonesia.

Dalam diskusi tersebut menghadirkan nara sumber yaitu Dwi Budi Sutris (Direktur Lalu Lintas Angkutan Laut), Dajar Doni (Direktur Tekhnis Kepabeanan), Elvyn G Masassya (Dirut PT IPC Pelindo II), Carmelita Hartoto (Ketua Umum Insa) dan Farid Belbouab (Presdir CMA-CGM).