MVB Indonesia and BINUS University Selenggarakan Seminar “Sustainable Fashion, Textiles and Retail”

IMG-20190807-WA0018

Ketika membicarakan perihal “sustainable fashion”, kita harus sadar bahwa banyak aspek penting yang harus dipertimbangkan. Cara kerja keseluruhan bisnis tersebut dimulai dengan berbagai macam bahan baku mentah yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri: benang buatan tangan manusia sering disalahkan karena tidak ramah lingkungan, tapi benang alami seperti kapas juga tetap mendapatkan kritik.

Lalu, proses berlanjut ke tahap pembuatan yang kembali mendapat perhatian masyarakat yang menyatakan bahwa proses pembuatan pakaian harus dilakukan dengan kesadaran tinggi terhadap keadaan lingkungan.

Melalui seminar ini, kami mencoba mendalami beragam argumen dari berbagai pihak.

Di sisi penjualan, mulai banyak bermunculan ide untuk membeli barang bekas atau menukar, menyewa, atau meminjam pakaian daripada membeli pakaian baru. Para pelaku ritel menyadari hal tersebut dan strategi penjualan mereka mulai mempromosikan produksi dan konsumsi pakaian yang lebih sadar terhadap lingkungan, kehidupan sosial, dan etika moral.

Hal ini merupakan langkah penting menuju industri yang lebih mengedepankan unsur sustainable.
Kini, semakin banyak perusahaan pakaian yang mengubah model usaha mereka dan memperbaiki sisi rantai pasokan mereka untuk mengurangi dampak lingkungan secara keseluruhan, meningkatkan kondisi sosial di lingkungan pabrik, dan lain sebagainya.

Tapi, pihak mana saja yang sudah berperan aktif mengambil langkah posisif menuju industri yang “sustainable”? Dan siapa saja yang masih “nakal”?

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hal ini, pada 31 Juli 2019, MVB Indonesia, sebuah organisasi yang berdedikasi memberdayakan bisnis untuk mengimplementasikan ‘Praktik Bisnis Terbaik’ dan pendukung keberlanjutan, bersama dengan BINUS University menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Sustainable Fashion, Textiles dan Retail’.

Seminar tersebut menghadirkan panel diskusi yang terdiri dari pelaku bisnis terdepan dalam sektor tekstil dan garmen Indonesia, sektor industri ritel, dan ahli sustainability.
Seminar dibuka oleh Alistair Speirs, Ketua MVB yang ingin meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap sektor ekonomi raksasa yang terus mendapatkan perhatian masyarakat dalam perang terhadap degradasi lingkungan.

Pembicara pertama dalam seminar ini adalah Camelia Harahap, Head of Arts and Creative Industries of British Council yang berperan sebagai Pembicara Utama. Beliau menyampaikan pandangan umum terkait pendidikan konsumen terkait sustainable fashion, mulai dari proses pembuatan hingga penjualan di ritel dan penggunaan kembali.

Seminar kemudian dilanjutkan oleh Ratu Vashti Annisa, Miss Earth Indonesia ‘18 yang merupakan seorang aktifis yang berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran konsumen di bidang sustainability.

Sesi berikutnya merupakan panel diskusi yang memberikan pengetahuan baru terkait berbagai cara yang dilakukan oleh perusahaan fashion dan manufaktur garmen untuk menjadi lebih sustainable.

Pembicara yang ikut serta adalah Hitesh Chhaya dari Pan Brothers Group, Marina Chahboune, Sustainability Specialist di Textile & Apparel, Winston A. Mulyadi, Head of Commercial SEA and Oceania PT. South Pacific Viscose dan Dr. Alana James, Senior Lecturer in Fashion, Northumbria University.

Setelah panel diskusi, Ratna Dewi Paramita, M. A., Head of Fashion Program BINUS Northumbria School of Design mempresentasikan karya dari empat mahasiswa BINUS tekait sustainable fashion.
Sesi dilanjutkan dengan panel diskusi kedua yang membahas dampak sustainability terhadap fashion dan gaya hidup, alternatif praktis cara mengelola pakaian sekali pakai, konsep desain gaya hidup sustainable dan inovasi dalam industri ritel. Subjek tersebut dibahas bersama Dino Fabriant, Chairman Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII), Kanwarpreet Singh, Sustainability Manager for Purchasing Logistic Area, IKEA South East Asia, M. Bijaksana Junerosano, Founder of Waste4Change and Denia Isetianti, Founder & CEO Cleanomic.
Seminar lalu ditutup oleh studi kasus laporan sustainability TAUZIA oleh Sukma Putra dan Dr. Adilla Anggreini, B. Bus., MBA.

“Kami mengumpulkan para pemikir dan praktisi terdepan dalam hal sustainable fashion, mulai dari pihak manufaktur hingga ritel untuk menemukan solusi dari berbagai tantangan yang dihadapi industri ini,” ujar Alistair Speirs.

“kami ingin konsumen melihat bahwa para pelaku sektor industri ini peduli terhadap masa depan dan membuat peraturannya sendiri karena mereka sadar bahwa itulah masa depan.“

Seminar ini bertujuan untuk mewadahi ide dan pemikiran terkait ruang lingkup dan potensi permasalahan sustainability dalam industri fashion, tekstil, dan ritel, dan memaparkan gambaran yang lebih beragam, menarik, dan berasaskan masa depan, kebutuhan manusia, produk lokal, slow fashion dan participatory design, serta pengetahuan terkait bahan baku.