Pakar Kemaritiman Chandra Motik: Keterlibatan Kaum Perempuan di Dunia Kemaritiman Perlu Terus Ditingkatkan

cmmaritim

Kaum perempuan perlu terlibat aktif dalam pengembangan dunia maritim Indonesia. Kendati kiprah perempuan dalam dunia maritim Indonesia sudah menuju ke arah positif, keterlibatannya masih harus terus didorong di masa mendatang.

”Kami berharap nantinya dorongan pemberdayaan perempuan akan semakin besar dan berdampak positif terhadap kemajuan dunia maritim Indonesia dan menyongsong Indonesia sebagai poros maritim dunia,” kata Woman in Maritime Indonesia (Wima – Ina) Dr Hj Chandra Motik Yusuf SH MSc pada acara Seminar dengan tema “Pemberdayaan Perempuan Dalam Tantangan Industri Maritim Masa Depan”, yang digelar oleh Woman in Maritime Indonesia (Wima – Ina) bersama Wakil Sekretaris Kabinet  RI- Ratih Nurdiati, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia mengakui, di maritim, terutama di pelayaran, perlakuan yang tidak baik masih juga dialami perempuan. Mengutip penelitian Dr Momoko Kitada, asisten profesor di World Maritime University, terhadap perempuan kru kapal, ada 17 persen responden yang mengalami pelecehan seksual saat berlayar, 10 persen mengalami perundungan, 15 persen mengatakan tidak mendapatkan akses kebersihan, dan 48 persen responden mengatakan tidak mendapatkan akses sama sekali.

”Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja di kapal masih belum bersahabat kepada perempuan,” jelas Chandra Motik.

Menurut Chandra, walaupun memiliki sejarah panjang keterlibatan perempuan di dunia maritim, sampai sekarang masih belum banyak perempuan yang terjun ke dunia maritim Indonesia. Padahal, potensi dan peluang yang ada dinilai sangat besar. Oleh karena itu, perlu dukungan dari banyak pihak agar semakin banyak perempuan terjun ke sektor maritim.

Seminar tersebut juga menghadirkan pembicara: Yenni Wahid – Wahid Institute, Carmelita Hartoto – Waketum WIMA INA dan Ketua Umum INSA (Indonesia National Shipowner Association), Connie Rahakundini Bakrie- Pengamat Militer, Rafael Walangitan – Assisten Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Ketenagakerjaan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Tutie Rahayu – Direktur Politeknik Maritim Negeri Indonesia.

Sementara itu Yenny Wahid, pendiri Wahid Institute, mengatakan, di masa depan peluang perempuan untuk berkiprah dalam kegiatan ekonomi, termasuk di sektor maritim, akan sangat besar. ”Kebutuhan masa depan berbeda dengan kebutuhan sekarang. Ke depan, teknologi akan sangat maju sehingga pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kekuatan atau otot bisa jadi tergerus oleh artificial intelligence. Di situ, perempuan mempunyai peluang untuk lebih berperan,” kata Yenny.

Meski demikian, katanya, walaupun mampu secara mental, perempuan tidak bisa berkiprah jika tidak diberi kesempatan. ”Jika perempuan diberi kesempatan, efek ke masyarakat akan besar. Angka kematian bayi dan ibu menurun. Dengan memberdayakan perempuan, (hal itu berarti) akan memberdayakan masyarakat, memberdayakan negara, dan dunia,” ujar Yenny.