Pemerintah Bantu Wong Cilik yang Tergabung di Koperasi itu Tugasnya

IMG-20190909-WA0004

Dewan Koperasi Wilayah (Dekopinwil) Provinsi DKI Jakarta menggelar acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada Jumat, (6/9). Acara yang digelar di Transmart Cilandak, Jakarta Selatan ini, merupakan laporan pertanggungjawaban kinerja pengurus dan pengawas kepada anggota selama satu tahun yang sudah berjalan. Dimana tahun ini menjadi tahun ke empat kepengurusan periode 2015-2020.

Rakerwil dengan tema “Reformasi Gerakan Koperasi di Era Revolusi Industri 4.0″ ini dibuka oleh Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Luhur Prajarto dan dihadiri Wakil Pimpinan Dekopin Pusat Dina Latifa Nasution, Ketua Dekopinwil DKI Jakarta, Nuraini Barung, segenap pengurus dan pengawas serta anggota se wilayah DKI Jakarta.

Dalam laporan pertanggungjawaban yang diterima anggota secara aklamasi, tetapi tetap anggota mengkititisi kinerja pengurus yang belum maksimal. Demikian anggota juga memberikan masukan dan saran-saran pada pengurus, misalnya agar lebih proaktif menjalin kemitraan kepada berbagai pihak, sehingga Dekopinwil makin memiliki power.

Terkait hal tersebut, Ketua Dekopinwil langsung merespon dan disadari, bahwa dalam melaksanakan program selama tahun berjalan masih banyak kekurangan dan hambatan, baik secara internal maupun eksternal. Meskipun apa yang dilakukannya sudah maksimal. “Kami akui masih banyak kekurangan dalam menjalankan program, terima kasih atas semua saran, masukan dan kritik membangun. Dan kami tetap mohon dukungan semua pihak demi kesinambungan dan membuat Dekopinwil DKI Jakarta lebih baik lagi kedepannya,” papar Nuraini.

Adapun Dina Latifa Nasution juga memberi arahan koperasi adalah kebersamaan dan kekeluargaan dalam menciptakan kesejahteraan yang didambakan. Soal kekurangan dalam mengelola organisasi perlu dilengkapi dengan proaktif semua pihak di dalamnya, niscaya selalu ada solusi dan jalan keluar memecahkan kebuntuan.

Dina juga menyinggung soal RUU Perkoperasian yang lekas disahkan DPR. Jangan ditunda-tunda lagi karena tarik menarik kepentingan pihak-pihak yang tak menginginkan RUU itu disahkan. “Jika koperasi yang benar-benar koperasi pasti setuju RUU Perkoperasian disahkan, tetapi yang koperasi hanya mengatasnamakan koperasi tetapi prakteknya lain, sangat kuatir karena kehadiran UU itu akan menjeratnya,” tandas Dina.

Dina juga mengusulkan agar hanya ada Kementrian Koperasi saja tanpa embel-embel UKM, agar lembaga itu konsen mengurusi koperasi. Kata dia, sudah ada 22 kementerian yang urusi UKM. “Karena semua urusi UKM, maka koperasi ini yang dilupakan. Kementerian Koperasi saja sehingga khusus urusi koperasi, UKM-nya serahkan yang 22 lembaga itu pasti sudah lebih dari cukup,” ujarnya lagi.

Dina juga menyinggung keberadaan Dekopin sebagai wadah tunggal gerakan koperasi yang dipersoalkan. Katanya di Indonesia yang ada wadahnya saja koperasi masih masih belum padu apalagi tidak ada. “Jangan kebalik-kebalik, di Jepang, Korea, China, Thailand dan lain lain itu hanya ada wadah sektoral koperasi, dan sekarang sudah di satukan. Eh di sini yang sudah ada wadah satu malah disuruh dipecah-pecah. Soal bantuan ke koperasi di negara manapun juga dibantu karena koperasi itu wadahnya orang kecil. Namanya masih kecil ya dibantu oleh pemerintah supaya jadi besar. Kenapa mesti alergi dengar bantu koperasi. Memang sudah kewajiban negara,” tandas dia yang juga Ketua Umum Pusat KSU Jakarta.

Sementara itu, menurut Deputi Bidang Kelembagaan, Kemenkop dan UKM, Luhur Prajarto, bahwa koperasi telah terbukti memberikan dampak nyata bagi perbaikan ekonomi para anggota maupun perekonomian nasional. Misalnya berkontribusi terhadap PDB yang terus meningkat prosentasenya dari tahun ke tahun, terutama dalam empat tahun terakhir. Selanjutnya ikut menciptakan lapangan pekerjaan dan pemerataan kesejahteraan.

Koperasi sebagai badan usaha juga mengikuti perkembangan teknologi. Maka momentum peringatan Hari Koperasi Nasional tahun ini mengambil tema “Reformasi Total Koperasi di Era Revolusi Industri 4.0″. Hal tersebut mendasari kesadaran, bahwa perkembangan teknologi yang mengalami loncatan luar biasa. Koperasi Indonesia dituntut memiliki kesiapan dan bekal sumber daya yang handal. Selalu disadari tekad kekinian dengan penggunaan teknologi digital dan membangun bisnis berbasis e-commerce. “Selain itu koperasi juga harus mampu mengakomodasi pola-pola baru dalam mengembagkan usaha dan organisasi supaya mampu berdaya saing,” ujarnya.

Luhur menambahkan, Gerakan Koperasi juga harus bisa merangkul generasi milenial. Baik sebagai anggota koperasi maupun mitra bisnis. “Ini yang tidak bisa dihindari, mengingat mereka selain memiliki jumlah besar mencapai sepertiga penduduk Indonesia, juga mereka akan meneruskan perjalanan panjang perkoperasian. Oleh sebab itu mereka harus didorong untuk melakukan rintisan bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi kekinian,” ujar Luhur lagi.

Masih jelas Luhur, bahwa dalam diri koperasi ada dua sisi, yaitu sebagai gerakan ekonomi, dimana koperasi merupakan kumpulan orang-orang yang berusaha bersama karena mempunyai perasaan dan kepentingan ekonomi yang sama. “Koperasi sebagai kumpulan orang, berarti dapat dikatakan koperasi adalah organisasi kemasyarakatan. Sedangkan sebagai perusahaan koperasi, maka bisnis yang dikelola harus benar sesuai jatidiri. Sebagai perusahaan, koperasi harus dikelola dengan baik, benar dan profesional,” tegasnya lagi.

Untuk semua itu imbuh dia, Gerakan Koperasi harus paham benar koperasi itu. Bagaimana koperasi akan kuat dan profesional jika anggotanya tak dibuat paham apa itu koperasi. Mereka jangan tahunya kalau menghadiri RAT dapat SHU. “Koperasi didirikan dan dikembangkan untuk besar, sehat, kuat, mandiri dan unggul. Harus dibangun berdasarkan kekayaan ekonomi dan skala ekonomi yang layak,” tahdasnya.

Karena itu lanjut Luhur, caranya harus terus dibangun partisipasi dari anggota. Tanpa itu modal dari internal sulit dipupuk. Untuk membuat hal itu, pendidikan dan pelatihan pada anggota harus terus dilakukan. Sebab kalau anggota paham dan cakap pada koperasi, mereka akan suport habis kopersasi sebagai badan usaha miliknya.

Luhur juga menekankan agar terus mengembangkan identitas di koperasi. Dengan identitas yang kuat koperasi akan maju dan berkembang. Selanjutnya ditingkatkan dari sisi kapitalnya, partisipasi anggota digalakkan. Kemudian legal formalnya untuk sumbang saran terhadap kebijakan agar nanti ada keberpihakan yang bagus pada koperasi. Kemudian poin yang tak kalah penting adalah networking. Dengan demikian kopertis memiliki jangkauan pemasaran yang luas.