Peradi Nilai Eggi Sudjana Tak Melanggar Pasal Ujaran Kebencian/Hate Speech

IMG-20171204-WA0009

Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi) menilai pernyataan advokat Eggi Sudjana seusai sidang terkait Perppu Ormas di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu, tidak menyalahi undang-undang. Pernyataan Eggi dinilai belum off side.

“Menurut kami pernyataan-pernyataan Eggi itu adalah murni buah pikirnya saja, diduga keras tidak ada niatan ujaran kebencian terhadap ajaran-ajaran agama lain,” kata Ketua bidang Pembelaan Profesi DPN Peradi Dr (C). Tasman Gultom SH MH AAAI (K) CLA yang didampingi Wakil Sekretaris bidang Pembelaan Profesi Bahrain SH MH dan Anggota Bidang Pembelaan Profesi lainnya (Andrian Bayu Kurniawan, Justiarta Hadiwinata, Andra Reinhard Pasaribu & Riana), kepada wartawan, kamis (7/12/2017) di gedung Grand Soho Jakarta.

Peradi, dalam kasus ini diminta oleh Bareskrim Polri (diwakilkan kpd: AKBP HUJRA SOUMENA SIK MH), untuk memberikan keterangan Ahli terkait Penyelidikan dugaan tindak pidana di muka umum, menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan dan atau diskriminasi ras, etnis, suku agama atau golongan tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 156 KUHP dan atau 156A KUHP yang diduga keras dilakukan oleh Advokat Eggi Sudjana. Polri sudah mengetahui saat ini ada tiga Peradi dan Egi juga tak lagi anggota Peradi, khususnya Peradi yang pimpinan Fauzi Yusuf Hasibuan & Thomas Edison Tampubolon

“Mereka berfikir Peradi pimpinan Fauzi Yusuf Hasibuan – Thomas Tampubolon adalah organisasi advokat yang paling netral dalam memberikan pendapat. Faktanya juga Peradi kita ada MoU dengan Mabes Polri. Faktanya juga Eggi Sudjana masih terdaftar sebagai anggota di Peradi kami, kata Tasman. Kalaupun tidak terdaftar, kami tetap bersedia memberikan keterangan secara proporsional dan profesional terhadap seluruh Profesi Advokat Indonesia,” papar Tasman.

Seperti diketahui, Eggi Sudjana dilaporkan oleh sejumlah ormas ke Bareskrim Polri, terkait dengan video wawancara Egi, di Gedung MK, 2 Oktober 2017. Menurut Egi, ajaran selain Islam bertentangan dengan sila pertama Pancasila. Egi sendiri membantah bahwa ucapannya itu bertujuan untuk mendiskreditkan agama selain Islam. Hal itu lebih ditujukan bagi efek Perppu Ormas bagi kelangsungan organisasi keagamaan.

Menurut Tasman, kalau memang Eggi menyalahi Undang-undang, harusnya MK menyatakan bahwa Eggi contem of court, “faktanya kan tidak. Sebagai advokat kami nilai Eggi masih dalam koridor dan dalam batas-batas menjaankan fungsi profesi advokat,” jelas Tasman.

Ia menambahkan, di dalam pasal 16 Undang-undang no 18 tahun 2003 tentang advokat berbunyi, dalam menjalankan profesinya seorang advokat mempunyai hak imunitas baik di dalam maupun diluar pengadilan, dan ini dikuatkan oleh putusan MK no 26/PUU-XI/2013.