Reformasi Kepolisian sedang Bergulir di Dapur Asisten SDM

suhadininja

Reformasi Kepolisian mulai digulirkan secara besar-besaran, dimulai dari dapur Sumber Daya Manusia (SDM) Mabes Polri yang dipimpin seorang Jendral Bintang dua Irjen Pol Arief Sulistyanto. Ia adalah sosok polisi yang sangat sederhana, hidupnya melulu dicurahkan pada pengabdian, khususnya pembenahan intitusi kepolisian.

Namanya mulai berkibar pada saat memimpin Polda Kalimantan Barat. Pada waktu itu ia masih berpangkat bintang satu (BrigJen). “Gebrakan yang beliau lakukan adalah, menerapkan pelayanan terpadu dengan satu pintu zero KKN, artinya semua pelayanan di kepolisian yang beliau pimpin tidak mengenal suap-meyuap yang kerap terdengar di banyak tempat. Langkah beliau di Pontianak cukup banyak diapresiasi oleh kalangan pencari keadilan. Tidak sedikit masyarakat Kalbar yang mengidolakan seorang Arief sebagai Kapolda karena kejujurannya dalam menjalankan tugasnya,” ujar Ketua Umum Negeriku Indonesia Jaya (Ninja) C Suhadi SH MH kepada wartawan di Jakarta, rabu (4/4/2018).

Sepenggantinya Kapolri, dari Baharudin Haiti ke Tito Karnavian, Arief Sulistyanto ditarik ke mabes polri dengan pangkat Jendral bintang satu, dan tidak berlangsung lama pangkatnya naik ke bintang dua, selanjutnya ia dipercaya menduduki jabatan asisten SDM (Sumber Daya Manusia) Mabes Polri.

Dalam banyak catatan sebelumnya, asisten SDM di Mabes Polri bisa disebut sebagai ‘tempat basah’, karena perannya yang demikian besar dan seksi maka tidak urung wilayah ini banyak diincar banyak pejabat di level Irjen Pol untuk mendudukinya.

“Rupanya tidak demikian buat seorang Arief, kedudukan yang diraihnya bukan lagi diberdayakan mencari kekayaan, akan tetapi diberdayakan untuk mereformasi kepolisian. Baik dalam hal kenaikan pangkat yang digodok di SDM, maupun masalah pendidikan yang tersebar di jajaran Mabes Polri, seperti Akpol, Sespimti maupun PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisan), sekarang tidak lagi menggunakan istilah keren ‘sogok-menyogok’ yang kerap dikeluhkan masyarakat. Di tangan beliau, kepandaian dan kejujuran dalam mengemban tugas di Kepolisian itu yang diutamakan, termasuk juga katabelece, kerap terjadi di lembaga pendidikan, berkat tangan dinginnya hal itu sudah tidak berlaku lagi,” ungkap Suhadi.

Sikap seorang Arief dalam mereformasi kepollisian, imbuhnya, terus bergulir dan terus digalakan dengan tujuan agar kepolisian benar-benar hadir di tengah masyarakat sebagai penyayom masyarakat yang sesungguhnya, bukan sebuah retorika belaka.