Ringankan Beban APBN, Kemenkop dan UKM Dukung Pembentukan Komunitas WP

Kementerian Koperasi dan UKM menggelar Focus Group Disscusion (FGD) dengan pembahasan seputar penguatan komunitas Wirausaha Pemula atau New Entrepreneurs Society (NES) yang mengambil tema “Pentahelix untuk Penguatan Komunitas Wirausaha Pemula”, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (15/8/2019).

Acara tersebut, dibuka oleh Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati. Selain Yuana, hadir pada kesempatan tersebut CEO LUNAS (Layanan UMKM Naik Kelas) Syamsul Hadi, Kepala Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cianjur Himam Haris, dan Sekretaris Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat Suhra.

Yuana menjelaskan, acara ini merupakan salah satu upaya bagi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM, untuk memberikan keleluasaan bagi wirausaha pemula dalam mengembangkan bisnisnya. Sebab, kata dia, dengan dibentuknya komunitas ini mereka bisa melakukan kegiatan usahanya secara mandiri, tanpa mengandalkan pemerintah, khususnya menyangkut pembiayaan.

“Kita ingin mem-follow up semua program kementerian, dalam hal ini pemberian start up capital (modal awal) ke wirausaha pemula yang sekarang jumlahnya mencapai 20.382. Kalau sukses penyaluran, kita sudah sukses, tinggal sekarang bagaian mengembangkan ke depan setelah mereka (WP) mendapatkan itu. kita melakukan deteksi monitoring evaluasi. Karena dalam pedomannya, kewajiban monitoring itu hanya dua tahun, yang lama sudah diserahkan ke pemerintahan daerah,” ujar Yuana, usai membuka acara.

Menurut Yuana, mereka (WP) sudah mendeklarasikan komunitas yang diinisiasi oleh mereka sendiri. Terkait dengan itu, katanya, Kementerian Koperasi dan UKM tidak ingin melakukan intervensi, bahkan sebaliknya mendukung dan memfasilitasi dalam mengembangkan bisnisnya.

“Ini adalah sebuah komunitas yang formal, sehingga mereka akan membuat jaringan di seluruh Indonesia. Sedangkan komunitas di tingkat nasional, saat ini kepengurusan sedang digodok. Nanti ke depan mereka lebih mandiri, bisa punya ‘bargaining position’ dengan mitra. Misalnya dengan PNM (sudah MoU), dengan Telkom, dan lainnya. Jadi nanti mereka bisa menggunakan CSR-nya, bisa PK (dana tunjangan untuk UKM), BL (Bina lingkungan) seperti pelatihan dan pendampingan. karena mereka (perusahaan besar) memiliki anggaran yang harus disalurkan ke UMKM,” kata Yuana menambahkan.

Dengan adanya komunitas seperti ini, kata Yuana, maka akan meringankan beban pemerintah. Sebab, ujarnya, para pelaku usaha pemula itu bisa secara mandiri melakukan bisnisnya, termasuk membuka jaringannya di seluruh Indonesia.

“Karena mandiri, mereka tidak akan mengandalkan APBN atau APBD secara total. Bahwa nanti mungkin ada alokasi APBD ke komunitas untuk mengembangkan usaha setelah mendapatkan ‘start up capital’, itu hal lain ya. Tapi NES ini ke depan akan menguat. Ya tentu harapan kita akan saling membangun kemandirian antar anggota komunitas dan mampu mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi wirausaha pemula bersama-sama,” katanya lebih lanjut.

Sementara itu, CEO LUNAS Syamsul Hadi menegaskan, insentif yang diberikan pemerintah memang digunakan secara efektif, namun demikian, bantuan permodalan dari pemerintah tersebut, ternyata bukanlah satu-satunya yang dibutuhkan para wirausaha pemula. Proses bisnis mereka, katanya, juga membutuhkan dukungan dari pihak lainnya.

“Disinilah permasalahannya. Mereka tidak bisa mencari dukungan dari luar pemerintah, karena para wirausahawan pemula tidak memiliki forum atau semacam komunitas sebagai wadah untuk mengkomunikasikan permasalahan mereka,” ujar Syamsul.

Dia juga mengatakan, output dari program wirausaha pemula yang dimiliki pemerintah, bukan sekadar mereka sudah menerima dana, tetapi bagaimana dana yang diberikan itu dikelola dengan baik dan berkembang, sekaligus bisa menginspirasi yang lainnya.

“Karenanya, kita mendorong mereka untuk mengorganisir dirinya sendir dengan membentuk komunitas. Ini penting, agar mereka bisa menyuarakan kebutuhannya. Misalnya soal legalitas kelembagaannya, akses pasar, perbaikan proses produksi, dan kebutuhan yang diperlukan lainnya,” ujar dia.

Lebih tegasnya lagi, kata Syamsul, dengan dibentuknya komunitas sebagai wadah para wirausaha pemula ini, maka tugas pemerintah adalah memperlancar proses tranformasi informasi bagi mereka. “Misalnya begini, Kementerian Koperasi dan UKM bisa mengundang pihak lain untuk mempertemukan perwakilan dari komunitas WP ini,” katanya menambahkan.

Terkait akses permodalan Syamsul mengatakan, para wirausaha pemula tidak bisa hanya mengandalkan pemberian dari pemerintah. “Tidak boleh berhenti di situ. Mereka bisa mencari akses permodalam melalui kemitraan. Disitu pentingnya komunitas ini,” katanya lebih lanjut.

Pada kesempatan lain Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cianjur, Himam Haris mengatakan, wirausaha pemula yang ada di kabupaten Cianjur, memang selama ini memerlukan pendampingan serta pelatihan yang memadai. Hal itu diperlukan agar mereka lebih meningkatkan produktifitas bisnisnya ke arah yang lebih baik.

“Saya selaku Kepala Dinas Koperasi dan UKM di Kabupaten Cianjur, tentu sangan mendukung dengan adanya komunitas bagi wirausaha pemula seperti ini. Wadah ini jelas akan memudahkan bagi mereka, termasuk bagi pemerintah dan pihak lainnya dalam mengkomunikasikan permasalahan atau kebutuhan yang diperlukan mereka,” ujar Himam.

Dia mengatakan, pemerintah daerah selama ini memiliki komitmen terhadap wirausaha pemula. “Jangan sampai mereka yang sudah diberikan kesempatan untuk berusaha, justru kemudian mundur. Makanya mereka harus terus dibimbing, diberikan pelatihan dan pendampingan agar mereka tetap eksis menjalankan usahanya,” ujar Himam menambahkan.

Yang jelas, kata Himam, wirausaha pemula harus bisa mengorganisasikan diri agar memiliki jaringan usaha yang luas sehingga naik kelas. karena itu dia berharap mereka saling membangun kemandirian antar anggota komunitas dan mampu mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi wirausaha pemula bersama-sama.

“Memang sih, diperlukan inisiatif dan kreativitas para wirausaha pemula, sehingga tumbuh sikap mandiri dalam menangkap berbagai peluang usaha yang ada,” katanya lebih lanjut.