Seminar on Indonesia’s South-South Coorperation: Exploring the Potensials

Memasuki tahun 2017, indonesia semakin aktif memberikan berbagai bantuan kepada sesama negara berkembang dalam skema Kerjasama Selatan-Selatan (KSS), baik berupa pengembangan kapasitas maupun kerjasama teknik lain pada tiga bidang unggulan yakni pembangunan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan ekonomi. Timor Leste dan Kyrgyztan adalah sedikit contoh dari total 96 negara berkembang yang telah meneriman manfaat dari KSS Indonesia misalnya melalui program bantuan pertanian dan perternakan. Meski sudah banyak kerjasama pembangunan terlaksana, tak banyak yang tahu bahwa pengalaman Indonesia telah mampu menolong sesama negara berkembang lain untuk mencari solusi permasalahan pembangunan yang dihadapi, dengan senantiasa berlandaskan pada prinsip kesetaraan, solidaritas, dan berbagi pengetahuan.

Dalam rangka mensosialisasikan capaian KSS Indonesia, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan pada Organisasi Internasional (Pusat P2K-Multilateral), Badan Pengkajian dan Pengembangangan Kebijakan (BPPK), Kementrian Luar Negeri RI selaku anggota Tim Koordinasi Nasional Kerjasama Selatan-Selatan Universitas Brawijaya dengan didukung oleh USAID akan menyelenggarakan “Seminar on Indonesia’s South-South Coorperation: Exploring the Potentials” pada tanggal  November di Studio 1, UBTV, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Pelaksanaan Seminar ini ditujukan pula untuk menyuarakan kiprah dan kontribusi Indonesia dalam memberikan bantuan kapasitas bagi sesama negara berkembang dalam skema KSS dan manfaatnya bagi mitra negara selatan. Hal ini berkenaan dengan meningkatnya status Indonesia sebagai Negara Berkembang Berpenghasilan Menengah (Middle Income Developing Countries) dan anggota G-20, sehingga Indonesia berangsur mengambil peran sebagai negara penyedia bantuan, bukan lagi hanya sebagai penerima.

Seminar akan dibuka oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S.. Hadir sebagai pembicara pada seminar adalah Duta Besar LBPP RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus; General Director of Agriculture, Minisry of Fisheries and Agriculture, Timor Leste, Maria Odete do Ceu Guterres, Msc; Direktur Politik Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Internasional, KemenPPN/BAPPENAS, RM Dewo Broto Joko P, SH, LLM,; Kepala Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Sengosari, drh. Enniek Herwiyanti; dan Direktur Pusat Kajian Kerjasama Selatan-Selatan, Universitas Brawijaya, Hangus Tarno.