Setelah Menunggu 7 Tahun, Batam Pecah Telor dalam Program Bantuan WP

Setelah menunggu 7 tahun, akhirnya Kota Batam pecah telor dalam penerimaan bantuan pemerintah untuk pengembangan Wirausaha Pemula (WP) dari Kementerian Koperasi dan UKM. Dari 126 penerima WP tahap kesepuluh, di sembilan propinsi, 16 diantaranya berasal dari Batam dan sekitarnya.,

“Kepada penerima WP, kami menekankan agar benar-benar memanfaatkan dana bantuan secara maksimal sehingga dapat meningkatkan dan mengembangkan usahanya,” pesan Luhur Pradjarto, Asdep Permodalan, Deputi Bidang Pembiayaan, di Batam, Jum’at (27/7) dalam pengarahannya kepada 16 WP penerima yang sebelumnya telah diserahkan secara simbolis oleh Ir. Yuana Sutyowati, MM, Deputi Bidang Pembiayaan.

Luhur menguraikan, Kota Batam sebagai kota yang paling dekat dengan Singapura dan Malaysia, maka UMKM perlu diperkuat dan diharapkan daya saing dapat meningkat pula. “Selain itu, Batam ke depan sebagai tumpuan ekspor Indonesia. Oleh karena itu, pelaku UMKM harus menangkap peluang tersebut dan memperkuat jaringan usaha, “tambah Luhur.

Sementara itu Suleman Nababan, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Batam, mengapresiasi Kementerian Koperasi dan UKM atas perhatiannya untuk membantu UMKM di Kota Batam. Lebih lanjut, dipesankan kepada 16 WP penerima agar benar-benar mengoptimalkan dana bantuan sehingga dapat meningkatkan skala usahanya.

“Untuk itu, kami akan menugaskan kepada tenaga pendamping guna membina sekaligus memantau usaha-usaha yang dilakukan mereka, karena keberhasilan dari 16 WP ini diharapkan dapat mengangkat UMKM di Kota Batam untuk memperoleh bantuan baik dari Pemerintah maupun Lembaga lainnya dimasa mendatang, ” kata Nababan.

Pada kesempatan tersebut, Iluh Linda, yang mengelola usaha kerajinan rajutan seperti tas dan tempat tisu, merasa senang proposalnya diterima sehingga bisa menerima bantuan dana pengembangan WP.

Menurut Iluh, dana WP tersebut akan untuk modal kerja dan membeli mesin jahit dan etalase tempat benang. “Selama ini kami kesulitan memenuhi pesanan pembeli karena kemampuan produksi kami yang terbats akibat keterbatasan mesin.,” kata Iluh. Selain melalui offline, Iluh dalam memasarkan produknya juga dilakukan melalui medsos (media sosial) dan market place, sehingga pesanan pun terus meningkat.

Iluh juga memiliki keinginan memajang dalam etalase, sekaligus etalase tempat bahan-bahan produksi khususnya benang.

“Dengan semua itu, diharapkan, jumlah produksi dan kualitasnya dapat meningkat. sehingga, pesanan-pesanan yang melalui online di marketplace belanja.com, dapat dipenuhi dengan cepat, ” jelas Iluh.