UKM Surabaya Ikuti Workshop Go Digital

Sekitar 200 UKM yang berada di wilayah Jawa Timur khususnya kota Surabaya antusias menghadiri Workshop yang mengangkat tema “Surabaya SMEs Go Digital and International” di Kota Surabaya, Rabu (7/3). Workshop yang diselenggarakan oleh US-ASEAN Business Council (US-ABC) bekerjasama dengan Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kementerian Koperasi dan UKM dan Konsultan Amerika Serikat di Surabaya, menghadirkan pelatihan dari perusahaan-perusahaan multinational Amerika Serikat seperti Facebook, FedEx, Google, Cisco dan HM Sampoerna.

Dalam workshop yang dibuka secara resmi Walikota Surabaya Tri Rismaharini ini, UKM dibekali informasi mengenai tantangan dan peluang UKM Indonesia dalam era ekonomi digital dan perdagangan global serta program pemerintah pusat dalam pengembangan kemampuan ekspor dan daya saing UKM Indonesia yang disampaikan Kementerian Luar Negeri, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI), dan akademisi dari Universitas Ciputra.

Sementara itu, dalam sambutannya, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta mengatakan bahwa peran UMKM menjadi sangat penting bagi Indonesia untuk dapat berkembang menjadi sebuah negara maju dengan fondasi ekonomi yang kuat, terlebih di era globalisasi dan di tengah Masyarakat Ekonomi ASEAN. “Saat ini, UMKM harus memiliki daya saing yang tinggi agar mampu meningkatkan skala usahanya di tengah ketatnya persaingan”, tegas Wayan.

Wayan berharap UKM khususnya yang berada di Surabaya dapat mampu meningkatkan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran UMKM dengan semakin memahami penggunaan platform digital sebagai peluang dalam meningkatkan akses pasar UKM ke dalam global market, melalui e-commerce.

Berbicara di tingkat regional ASEAN, sebagai kawasan dengan pertumbuhan internet tercepat di dunia, menurut data dari Deloitte, saat ini jumlah pengguna internet di ASEAN terdapat sebanyak 260 juta, dengan lebih dari 700 juta koneksi aktif perangkat mobile, di mana 70% pengguna internet merupakan penduduk berusia di bawah 40 tahun. Selain itu, perekonomian digital di ASEAN menghasilkan sekitar 150 miliar dolar Amerika per tahun pada tahun 2015, di mana 40% nya berasal dari jasa layanan online dan konektivitas.

Strategi pemanfaatan potensi digital yang begitu besar di ASEAN, telah dituangkan dalam dokumen ASEAN Economic Community Blueprint 2025, yang mencakup sejumlah strategi dan sasaran dalam mendukung pengembangan ekonomi digital. “Dalam hal ini, manfaat yang dapat dirasakan bagi UMKM tidak hanya terbatas pada penyediaan akses pasar dan komersialisasi produk, tetapi juga berorientasi pada peningkatan partisipasi UMKM dalam Global Value Chain”, kata Wayan lagi.

Wayan Dipta mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik yang dituangkan dalam Paket Kebijakan Ekonomi XIV melalui Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017. Peraturan ini akan menjadi guidelines bagi langkah-langkah penyiapan dan pelaksanaan perdagangan berbasis perangkat dan prosedur elektronik. “Hal-hal yang diatur mencakup pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, pendidikan dan sumber daya manusia, infrastruktur komunikasi, logistik, keamanan siber, serta pembentukan manajemen pelaksana”, kata Wayan.

Menurut Wayan, kegiatan seperti ini tentu sangat diharapkan bagi UKM untuk dapat naik kelas dengan memanfatkan sarana digital. Kerjasama dengan US-ASEAN Business Council yang merupakan organisasi perdagangan yang beranggotakan lebih dari 150 perusahaan multinasional Amerika Serikat yang beroperasi di Asia Tenggara sangat bermanfaat bagi UKM untuk dapat berkonsultasi dan melihat peluang untuk menjadi mitra usaha perusahaan-perusahaan tersebut. “Saya berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan di wilayah lain untuk menjangkau pelaku UKM yang ada di seluruh Indonesia”, pungkas Wayan.