Unindra Minta Pemerintah Perhatikan dan Segera Selesaikan Nasib Guru Honorer

Permasalahan pada dunia pendidikan setiap tahun datang silih berganti. Yang terbaru adalah masalah pengangkatan guru honorer untuk pendidikan menengah ke bawah sampai saat ini belum tuntas. Memang sudah ada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait masalah tersebut, namun nampaknya permasalahan belum juga kunjung usai.

“Ini menimbulkan tanda tanya bagi saya, ada apa sebenarnya, logikanya kalau guru ada kegiatan mengajar berarti ada formasinya walaupun status honorer. Di sisi lain di dalam undang-undang anggaran pendidikan 20% dari APBN, artinya bidang pendidikan mendapat perhatian yang cukup besar, namun kok permasalahan belum selesai,” kata praktisi Pendidikan Prof Dr Sumaryoto, ketika berbincang di kampus Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (21/12/2018).

Kalau jumlah APBN secara keseluruhan Rp 1.800 triliun lebih, imbuhnya, maka alokasi untuk pendidikan Rp 300 triliun lebih. Guru honorer menurutnya harus tetap dihargai dan dihormati, meskipun honornya sangat kecil, namun karena tanggungjawab yang diberikan mereka tetap mengajar dengan sepenuh hati.

Unindra merupakan kampus yang banyak meluluskan alumninya menjadi guru. Tercatat dari total jumlah alumni lebih dari 60.000, 40.000 lebih kini berprofesi menjadi guru. “Jadi kami sebagai kampus pencetak guru, meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib para guru honorer yang masih belum diselesaikan dengan baik,” kata Sumaryoto yang merupakan Rektor Unindra ini.

Unindra merupakan kampus yang mewajibkan mahasiswanya membayar SPP dengan sangat murah, per semester Rp 900 ribu atau Rp 150 ribu per bulan. Mahasiswa yang masuk ke kampus ini dibebankan uang gedung Rp 1.150.000,- bahkan sebelumnya pernah Rp 700 ribuan. Kini mahasiswa yang aktif kuliah di Unindra sekitar 36 ribu lebih. Dengan uang SPP semurah itu, Unindra harus membayar gaji 1.100 dosen dan 500 an pegawai.

“Jika dikelola dengan jujur dan amanah, kita selalu mensyukuri uang yang ada. Semua harus dilakukan dengan ikhlas, kalau memang kita bertekad untuk mengabdi kepada bangsa dan negara di bidang pendidikan yang harus tulus,” pungkas Sumaryoto.