Usut Tuntas dalang Kasus Novel

suhadi4

Organ Relawan Jokowi, Negeriku Indonesia Jaya (Ninja) mengapresiasi langkah Polri yang terus memburu pelaku kriminal terhadap penyidik senior Novel Bawesdan dan dari perjalan panjangnya akhirnya pelaku menyerahkan diri ke pihak kepolisian.

“Barangkali ini kasus kriminal di Polri yg paling panjang dalam sejarah pengungkapannya, karena biasanya dalam kasus-kasus biasa seberat apapun itu hitungannya adalah bulan, bukan tahun bertahun. Sebab secara logika kasus ini dari awal ada saksi yang tahu, baik ciri-ciri pelaku maupun kendaraan motor yang dikendarai pelaku,” kata Koordinator Organ Relawan Jokowi, Negeriku Indonesia Jaya (Ninja) C Suhadi Kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (28/12/2019).

Namun, imbuhnya, nampaknya Polri seperti ada di posisi yang dilematis melihat kasus ini. Suhadi yang selalu mangamati kasus Novel sangat tidak terkejut begitu yang menyerahkan diri dua orang anggota Polri, karena dari awal berita penyiraman air keras ke Novel sudah beredar luas bahwa pelaku adalah oknum aparat.

“Nah sekarang setelah kita semua tahu pelaku adalah oknum anggota Polri dengan pangkat Brigadir dari Brimob, Kelapa Dua yang nyaris tidak tersentuh hukum kalau bukan desakan Presiden kepada Kapolri yang baru, agar segera mengungkap kasus Novel. Ada apa?,” tanya Suhadi.

Brigadir dalam kepangkatan di Polri, menurutnya adalah Bintara tingkat tiga atau sebelum tahun 2001 disebut Sersan Kepala (Setka). Pangkat yg terbilang tidak tinggi di Polri, karena bukan pamen (perwira menengah) ataupun perwira selanjutnya diatas itu masih pati (perwira tinggi).

“Bercermin dari pangkat yang disandang pelaku, terlihat jelas ada kekuatan besar yang ada di belakang pelaku. Sehingga wajar Pengacara Novel mendesak Polri mengusut tuntas dalang (aktor intelektual) dibalik semua ini. Karena kita mau pangkat dijadikan ajang kekerasan untuk menyerang yang lemah, seperti terjadi juga di wajah hukum kita,” harap Suhadi.

Oleh karena itu ia tidak setuju dengan pandangan Neta S Pane, dari IPW, dalam keterangan tertulisnya, jumat 27 Des 2019 dan dimuat di medsos. Di situ dikatakan pelaku penyiraman air keras tunggal dan dasarnya dendam. Namun Neta tidak menjelaskan dendam itu karena apa. Dan alasan ini dalam kasus pidana tidak dapat diterima, karena alasan dari dendam itu harus ada. Tapi wajar pendapat itu, karena sumbernya dari seseorang yang tidak mengikat secara hukum.

Dengan tetap memegang kepada azas praduga tidak bersalah, Suhadi minta polisi tidak perlu takut mengungkap dalang dari pelaku penyiraman air keras tanpa pandang bulu. Karena kalau tidak akan menjadi PR besar buat kepolisian nantinya.